
???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????
NeoBo – Pada tahun 1967, sebuah esai pendek terbit di sebuah majalah seni ArtForum. Judulnya sederhana: Paragraphs on Conceptual Art. Penulisnya, Sol LeWitt. Esai itu tidak puitis dan agak lucu, karena Lewitt mengawali paragraf awalnya dengan menyinggung kritikus yang beradab. Dia menulis seperti ini:
"Editor menyurati saya bahwa dia setuju untuk menghindari “anggapan bahwa seniman adalah semacam kera yang harus dijelaskan oleh kritikus yang beradab.” Ini seharusnya menjadi kabar baik bagi para seniman maupun kera. Dengan jaminan ini, saya berharap dapat membenarkan kepercayaannya. Untuk melanjutkan metafora bisbol (seorang seniman ingin memukul bola keluar dari lapangan, yang lain ingin tetap santai di home plate dan memukul bola ke arah lemparan), saya bersyukur atas kesempatan untuk melakukan strike out sendiri."
Selebihnya kalimat-kalimatnya pendek, sederhana, nyaris seperti catatan kerja seorang tukang insinyur. Namun, di tengah esai itu muncul satu kalimat yang kemudian menjadi salah satu kutipan paling terkenal dalam seni abad ke-20.
“The idea becomes a machine that makes the art.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, dampaknya tidak sederhana. Selama berabad-abad, dunia seni terbiasa memandang karya sebagai hasil keterampilan tangan. Seperti asal bahasa Latinnyanya, Ars, ‘kerajinan’ atau pertukangan. Semakin rumit teknik seorang pelukis, semakin tinggi penghargaan yang diberikan. Seorang seniman diukur dari kemampuannya menguasai medium.
LeWitt menggeser pandangan itu. Baginya, tindakan artistik tak selalu berhenti pada proses menggambar atau melukis. Seorang seniman tak harus menggambar atau mematung langsung, tapi cukup dengan membangun konsep. Orang lain yang bekerja atas intruksi konsepnya. Gagasan itu segera diwujudkan dalam seri Wall Drawings.
Alih-alih mengirim lukisan, LeWitt justru hanya mengirimkan lembar instruksi. Garis harus ditarik dengan arah tertentu. Bentuk harus diulang dengan urutan tertentu. Jarak antarbidang telah ditentukan. Warna telah dipilih. Orang lain—teknisi museum, mahasiswa seni, bahkan relawan—dapat mengeksekusi instruksi tersebut di dinding mana pun.
Banyak pengunjung merasa bingung.
“Kalau yang menggambar orang lain, mengapa tetap disebut karya Sol LeWitt?”
Sebagian kritikus menganggap pendekatan LeWitt mengurangi pentingnya keterampilan artistik. Sebagian lain melihatnya sebagai pembebasan seni dari ketergantungan pada teknik. Apa pun posisinya, sejarah mencatat bahwa seni konseptual mengubah cara dunia seni memahami hubungan antara gagasan dan karya.
Perubahan itu memiliki konsekuensi yang masih terasa hingga sekarang. Jika gagasan dapat menjadi inti tindakan artistik, maka pelaksanaan tidak selalu harus dilakukan oleh tangan seniman sendiri. Pelaksanaan dapat dilakukan oleh orang lain, selama sistem yang dirancang tetap dijalankan secara konsisten.
Ketika AI memasuki studio seniman, banyak orang bergegas bertanya sinis, apakah mesin telah menggantikan manusia. Namun, sejarah seni mengingatkan bahwa pertanyaan tentang siapa yang melaksanakan sebuah karya bukanlah persoalan baru. Justru yang seharunya perlu dijawab adalah pertanyaan, apakah seni harus tangan atau pikiran yang membangun sistemnya?
Pertanyaan itu terus muncul selama bertahun-tahun. Jawaban dunia seni ternyata menarik.
Karena yang dianggap sebagai tindakan artistik bukan semata-mata menarik garis di dinding atau di kanvas, melainkan merancang sistem yang membuat garis-garis itu memiliki hubungan, ritme, dan makna.
Instruksi itu tidak dipahami sebagai catatan teknis. Instruksi harus dipahami sebagai bagian dari karya itu sendiri.
Di sinilah sejarah memberi pelajaran penting buat dunia seni, bahwa perubahan besar dalam seni hampir selalu diawali oleh perubahan pada cara kita memahami penciptaan. Dulu, penciptaan identik dengan tangan. Kemudian bergeser menjadi gagasan. Hari ini, bahkan sebagian praktik seni mulai menguji kemungkinan lain: sistem, algoritma, jaringan, dan proses.
Namun, sejarah juga menunjukkan sesuatu yang sering terlupakan. Bahwa tak semua gagasan otomatis menjadi karya seni. Tidak semua sistem memiliki nilai artistik. Dan tak semua aturan melahirkan pengalaman estetik.
Jika demikian, pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih menarik. Misalnya, apa yang membedakan sebuah sistem biasa dengan sistem yang diakui sebagai praktik artistik?
Pertanyaan itu tentu tidak bisa dijawab hanya dengan melihat komputer, algoritma, atau kecerdasan buatan. Kita harus kembali kepada sesuatu yang jauh lebih tua daripada AI.
Kita harus kembali kepada bahasa. Karena sebelum manusia belajar membuat gambar, membangun kota, atau menulis program komputer, manusia terlebih dahulu menemukan cara menyusun unsur-unsur menjadi sesuatu yang bermakna. Mungkin seni pun bekerja dengan cara yang sama. Bukan sekadar menghasilkan bentuk, tapi menyusun tata hubungan antarbentuk sehingga pengalaman baru dapat lahir.
Dan jika asumsi itu benar, maka pertanyaan yang selama ini kita ajukan mungkin perlu diubah. Bukan lagi, “Apakah AI dapat membuat karya seni?”
Lantas, apakah seni, seperti bahasa dan musik, juga memiliki tata bahasa yang dapat dirancang, dipelajari, dan terus dikembangkan?
Related posts




