NeoBo– Pada November 2022, Museum of Modern Art (MoMA) di New York membongkar tabu penggunaan AI dalam seni. Keputusan itu segera bergema ke seluruh dunia seni. Museum yang selama hampir satu abad menjadi salah satu penentu arah seni modern dan kontemporer itu mengakuisisi Unsupervised, sebuah instalasi karya seniman media Refik Anadol.
Keputusan itu menarik perhatian bukan semata karena karya tersebut menggunakan kecerdasan buatan yang sejauh ini dianggap barang haram dalam penciptaan. Menarik, tentu saja karena karya itu masuk ke dalam koleksi salah satu museum seni paling berpengaruh di dunia. Bagi banyak pengamat, peristiwa ini menjadi penanda bahwa AI tidak lagi sekadar dipandang sebagai teknologi, tetapi mulai dipertimbangkan sebagai bagian dari praktik seni kontemporer.
MoMA memperkenalkan karya tersebut melalui sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi menggelitik.
“What would a machine dream about after seeing the collection of The Museum of Modern Art?”
Pertanyaan itu menjadi titik berangkat Unsupervised. Refik Anadol menggunakan model pembelajaran mesin untuk mengolah representasi visual dari koleksi MoMA yang mencakup lebih dari dua abad sejarah seni. Hasilnya bukan reproduksi karya-karya lama, melainkan rangkaian citra yang terus berubah, seolah-olah memperlihatkan bagaimana sebuah mesin “membayangkan” kembali ingatan visual yang dipelajarinya.
Menariknya, MoMA tidak memperkenalkan karya tersebut sebagai bukti bahwa mesin telah menjadi seniman. Museum juga tidak menyatakan bahwa AI telah menggantikan manusia dalam proses kreatif. Sebaliknya, karya itu diposisikan sebagai sebuah eksplorasi mengenai hubungan antara teknologi, kreativitas, dan sejarah seni.
Bedanya Pengharam AI dan MoMa
Dalam banyak perdebatan publik, perhatian soal AI sering langsung pada kesimpulan naif bahwa karya dibuat oleh AI itu haram. Pengharaman itu tanpa mau tahu bagaimana proses itu terjadi. Pokoknya AI haram.
Sebaliknya, bagi MoMa, persoalan yang lebih menarik justru terletak pada bagaimana seorang seniman membangun sebuah sistem yang memungkinkan pengalaman visual baru muncul.
Pandangan itu sejalan dengan penjelasan Refik Anadol sendiri. Seniman AI ini menggambarkan Unsupervised sebagai upaya membayangkan apa yang mungkin “diimpikan” sebuah mesin setelah menyerap sejarah visual yang tersimpan di dalam koleksi MoMA. Dengan kata lain, AI bukan ditempatkan sebagai subjek yang memiliki kesadaran, melainkan sebagai medium yang bekerja di dalam kerangka konseptual yang dirancang seniman.
Meskipun demikian, keputusan MoMA tidak menghentikan perdebatan. Justru sebaliknya. Banyak seniman, kritikus, dan akademisi mengajukan pertanyaan baru.
Jika algoritma menghasilkan citra, siapakah penciptanya? Apakah penciptanya tetap manusia atau mesin?
Pertanyaan itu tentu saja wajar, terasa baru dan relevan. Namun, secara historis, pertanyaan itu bukan hal baru dan niscaya ada. Dunia seni pernah mempertanyakannya juga ketika fotografi muncul pada abad kesembilan belas. Perdebatan serupa juga mengiringi seni konseptual, seni video, seni digital, dan pelbagai medium baru lainnya. Setiap perubahan teknologi memaksa dunia seni meninjau kembali pengertian tentang karya, seniman, dan kreativitas.
Karena itu, peristiwa di MoMA tidak seharusnya dipahami sebagai awal dari sebuah revolusi yang sepenuhnya baru. Lebih tepat jika ia dibaca sebagai babak terbaru dalam sejarah panjang perubahan cara manusia memahami seni.
Untuk memahami mengapa keputusan MoMA memiliki arti penting, kita perlu mundur beberapa dekade. Kita perlu kembali kepada seorang seniman yang mengubah cara dunia seni memandang hubungan antara gagasan dan pelaksanaannya.





