Setiap bahasa memiliki tata bahasa yang mengatur bagaimana kata-kata disusun menjadi sebuah makna. NeoBo berangkat dari gagasan bahwa visual juga memiliki tata bahasa. Sebuah gambar tidak hanya terdiri atas bentuk, warna, atau komposisi, tetapi juga hubungan-hubungan yang membentuk cara seseorang melihat, bergerak, dan mengalami sebuah karya.

Visual Grammar NeoBo merupakan seperangkat prinsip yang mengorganisasi pengalaman visual. Prinsip-prinsip tersebut tidak dimaksudkan sebagai aturan yang membatasi kreativitas, melainkan sebagai kerangka berpikir yang membantu memahami bagaimana sebuah karya bekerja. Dengan grammar ini, proses berkarya tidak hanya bertumpu pada intuisi, tetapi juga pada kesadaran terhadap hubungan antara ruang, waktu, perhatian, dan ritme visual.

Grammar NeoBo dikembangkan melalui penelitian, pengamatan, dan praktik yang berkelanjutan. Di dalamnya terdapat konsep-konsep seperti Spiral (Pradaksina), Fraksionasi, RWD (Ruang–Waktu–Datar), Simultanitas, Sunyata, Rasio Intensitas 4:3:2, Kedataran Aktif, Diformasi Simbloik, hingga Warna Orientasi. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, tetapi bekerja sebagai satu sistem yang saling mendukung.