NeoBo- Gagasan sebagai mesin seni yang diperkenalkan Sol LeWitt tidak berhenti pada seni konseptual. Dalam beberapa dekade berikutnya, banyak seniman mulai memperlakukan aturan sebagai bagian dari proses penciptaan. Mereka tidak lagi memulai dengan membayangkan bentuk akhir sebuah karya. Mereka lebih dahulu merancang seperangkat prinsip yang kemudian menghasilkan bentuk tersebut. Perubahan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengubah cara kerja seni. Jika sebelumnya seniman bertanya, "Apa yang akan saya gambar?", kini sebagian seniman mulai bertanya, "Aturan apa yang dapat menghasilkan gambar?"
Perubahan pertanyaan itu melahirkan pendekatan baru. Ada seniman yang menggunakan pengulangan matematis. Ada yang menyusun sistem berbasis peluang. Ada pula yang memanfaatkan komputer untuk menjalankan aturan yang telah mereka rancang. Komputer pada masa itu belum memiliki kemampuan seperti kecerdasan buatan saat ini. Ia tidak mengambil keputusan sendiri. Ia menjalankan instruksi yang diberikan manusia. Namun, bagi banyak seniman, justru di situlah letak daya tariknya. Komputer memungkinkan sebuah sistem menghasilkan ribuan kemungkinan visual tanpa harus digambar satu per satu.
Seiring waktu, perhatian dunia seni mulai bergeser. Mungkin Objek tetap penting. Namun, proses yang melahirkan objek menjadi sama pentingnya. Sistem mulai dipandang sebagai bagian dari karya. Perubahan ini juga menggeser cara memahami kreativitas. Kreativitas tidak lagi selalu berarti menemukan satu bentuk yang sempurna. Kreativitas juga dapat berarti merancang seperangkat aturan yang mampu melahirkan banyak bentuk yang berbeda, tetapi tetap memiliki identitas yang sama.
Bayangkan saja seorang komponis. Ia tidak memainkan seluruh instrumen dalam sebuah orkestra. Ia menulis partitur. Musisi lain kemudian memainkan komposisi tersebut. Setiap pertunjukan terdengar sedikit berbeda, tetapi publik tetap mengenal karya itu sebagai ciptaan komponisnya. Dalam arsitektur, seorang arsitek tidak menyusun setiap bata bangunan. Ia merancang sistem ruang, struktur, dan hubungan antarelemen. Bangunan kemudian diwujudkan oleh banyak orang yang bekerja mengikuti rancangan tersebut.
Dalam dunia perangkat lunak, seorang perancang tidak menekan setiap tombol yang akan digunakan pengguna. Ia membangun sistem yang memungkinkan jutaan interaksi terjadi. Di sini, ontoh-contoh tersebut menunjukkan satu hal. Bahwa dalam banyak bidang kreatif, penciptaan sering kali berada pada perancangan sistem, bukan pada setiap tindakan pelaksanaan.
Seni kontemporer perlahan bergerak ke arah yang sama. Karena itu, ketika AI atau kecerdasan buatan mulai digunakan sebagai medium artistik, pertanyaan yang muncul sebenarnya bukan tentang apakah mesin dapat menghasilkan gambar. Mesin telah lama membantu manusia menghasilkan bentuk visual melalui pelbagai teknologi. Pertanyaan yang lebih tepat adalah apa yang sebenarnya diciptakan oleh seniman?
Apakah ia menciptakan gambar, menciptakan proses, atau ia menciptakan sistem yang memungkinkan gambar terus lahir?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting karena AI bekerja dengan cara yang berbeda dibandingkan alat-alat sebelumnya. Algoritma pembelajaran mesin tidak sekadar menjalankan instruksi yang kaku. Ia mampu menghasilkan variasi yang tidak pernah ditentukan secara eksplisit oleh pembuatnya. Variasi inilah yang kemudian memunculkan kesan bahwa mesinlah yang sedang "berkreasi". Namun, kesan tersebut sering menutupi kenyataan yang lebih kompleks. Bahwa sebelum satu gambar dihasilkan, seseorang harus menentukan tujuan, memilih data, menyusun parameter, menetapkan batasan, dan merancang pengalaman yang ingin dicapai. Keputusan-keputusan inilah yang membentuk karakter sebuah proyek artistik.
Dengan demikian, AI tidak menghapus kebutuhan akan gagasan. Sebaliknya, AI justru membuat kualitas gagasan menjadi semakin menentukan. Maka, di titik inilah sejarah seni memasuki babak baru. Jika seni konseptual memperluas makna penciptaan dari objek menuju gagasan, maka seni berbasis AI mulai menguji kemungkinan berikutnya. Mungkinkah penciptaan artistik terletak pada perancangan sebuah sistem visual yang mampu menghasilkan karya-karya baru secara berkelanjutan?





