NEOBO – Ketika karya Unsupervised karya Refik Anadol memenuhi Museum of Modern Art (MoMA), New York, dunia seni kembali mempertanyakan satu hal yang tampaknya sederhana tetapi sesungguhnya sangat mendasar: apakah karya yang lahir melalui kecerdasan buatan masih dapat disebut seni?
Pertanyaan itu terus bergema ketika Sougwen Chung melukis bersama robot, atau ketika Mario Klingemann membangun sistem yang menghasilkan ribuan gambar secara mandiri. Perdebatan yang muncul hampir selalu berputar pada persoalan yang sama, apakah AI menggantikan seniman?
Mungkin pertanyaan itu sendiri sudah tidak lagi tepat. Persoalan sesungguhnya bukanlah apakah AI boleh digunakan dalam seni. Sejarah seni menunjukkan bahwa setiap lompatan teknologi selalu diiringi keraguan yang serupa. Kamera pernah dianggap akan membunuh lukisan.
Komputer pernah dianggap tidak mungkin melahirkan karya seni. Kini giliran kecerdasan buatan yang diposisikan sebagai ancaman. Faktanya kemudian semua itu hidup berdampingan. Namun yang berulang bukanlah matinya seni, melainkan berubahnya cara manusia berkarya. Di sinilah Neo-Borobudur menawarkan sudut pandang yang berbeda.
AI Bukan Seniman, AI Bukan Musuh
Dalam banyak diskusi publik, AI sering ditempatkan pada dua posisi yang ekstrem. Di satu sisi, ia dipandang sekadar alat, seperti kuas atau kamera. Di sisi lain, ia diperlakukan seolah-olah telah menjadi seniman yang menggantikan manusia.
Neo-Borobudur tidak menerima kedua posisi tersebut secara utuh.
AI memang bukan sekadar kuas. Ia mampu menghasilkan kemungkinan visual yang tidak dapat dihitung manusia dalam waktu singkat. Namun AI juga bukan subjek estetik yang memiliki kesadaran, pengalaman hidup, tanggung jawab budaya, atau horizon historis. Apa yang sesungguhnya bekerja adalah sebuah sistem yang dirancang manusia.
Dengan demikian, pusat kreativitas tidak berpindah dari manusia kepada mesin. Pusat kreativitas berpindah dari menghasilkan bentuk menuju merancang kemungkinan baru.
Perubahan ini bukanlah akhir dari seni, melainkan transformasi peran seniman. Seperti halnya Arthur. C. Danto menyebut ini sebagai tranfigurasi ketika kotak sabun bisa menjadi seni. Bukan karena mediun atau bentuknya, tapi karena konsep Andi Warhol yang membungkus kotak sabun itu. Artinya seperti seni kontemporer itu sendiri yang tak lagi melihat medium, tapi wacana apa yang mendasarinya.
Masalah Terbesar AI Hari Ini
Sebagian besar model AI generatif saat ini belajar melalui pola visual. Ia mengenali jutaan gambar, menemukan kemiripan statistik, lalu menghasilkan gambar baru berdasarkan hubungan-hubungan tersebut. Karena itu, AI sangat mahir meniru gaya. Ia dapat melukis “seperti impresionis”, “seperti ukiyo-e”, atau “seperti surealisme”.
Bahkan dalam hitungan detik ia mampu menghasilkan ribuan variasi yang tampak meyakinkan. Namun ada sesuatu yang jauh lebih sulit dipelajari, yaitu: pengalaman.
Sebuah lukisan besar tidak pernah hanya terdiri atas bentuk, warna, dan komposisi. Namun juga mengandung cara pandang terhadap ruang, cara mengalami waktu, cara mengatur perhatian, cara membangun relasi antarunsur, hingga cara membawa penonton bergerak dari satu kesadaran menuju kesadaran berikutnya. Semua itu bukan gaya. Semua itu adalah tata bahasa.
Neo-Borobudur Tidak Menawarkan Gaya
Neo-Borobudur atau NeoBo bukan dimaksudkan sebagai gaya visual baru. Neobo adalah sistem operasional yang mengorganisai pengalaman melalui tubuh, ruang dan waktu yang memungkinkan pengalaman dan kesadaran terbentuk.
Dengan posisi ontologis tersebut NeoBo merumukan seperangkat aturan yang mengatur bagaimana pengalaman visual berlangsung. Dalam pengertian ini, Neo-Borobudur lebih dekat kepada grammar daripada gaya.
Sebagaimana bahasa Indonesia dapat digunakan untuk menulis puisi, berita, novel, maupun esai tanpa kehilangan struktur dasarnya, Neo-Borobudur juga menyediakan seperangkat prinsip yang memungkinkan lahirnya karya-karya yang sangat berbeda tetapi tetap berada dalam horizon pengalaman yang sama.
Prinsip Ruang–Waktu–Datar (RWD), Fraksionasi, Spiral Pradaksina, Sunyata, Garis Kosmik, hingga orientasi warna Sedulur Papat Lima Pancer bukanlah ornamen visual. Semuanya merupakan aturan yang mengorganisasi bagaimana perhatian penonton bergerak, bagaimana ingatan bekerja, bagaimana ruang dipahami, dan bagaimana makna perlahan muncul.
Maka, yang dipelajari dalam Neo-Borobudur bukan bentuk, tapi yang dipelajari adalah cara membangun pengalaman.
Mengapa AI Menjadi Absah?
Jika Neo-Borobudur dipahami sebagai gaya lukisan, penggunaan AI memang berisiko hanya menghasilkan tiruan visual. Namun apabila Neo-Borobudur dipahami sebagai grammar visual, situasinya berubah secara mendasar.
AI tidak lagi diminta menyalin hasil akhir. AI belajar seperangkat aturan. Ia belajar bahwa waktu tidak harus linear. Bahwa ruang tidak selalu tunduk pada perspektif tunggal. Bahwa perhatian bergerak secara spiral. Bahwa kepadatan visual harus bernapas melalui Sunyata. Bahwa warna bekerja sebagai orientasi ontologis sebelum menjadi sensasi psikologis. Dalam posisi ini, AI tidak lagi sekadar menggandakan karya, karena AI menjalankan tata bahasa.
Hubungan tersebut serupa dengan seorang penulis yang menggunakan aturan bahasa Indonesia. Tidak ada yang mempertanyakan keabsahan novel hanya karena ditulis menggunakan tata bahasa yang sama dengan ribuan novel lain. Jadi, di sini yang membedakan adalah bagaimana aturan itu diolah menjadi pengalaman yang unik. Demikian pula dalam Neo-Borobudur. Grammar tetap. Karya selalu baru.
Dari Prompt Menuju Grammar
Sebagian besar praktik AI Art hari ini masih bergantung pada prompt. Semakin rinci deskripsi yang diberikan, semakin spesifik gambar yang dihasilkan.
Neo-Borobudur menawarkan arah yang berbeda.
Letak yang menjadi pusat bukan lagi prompt, melainkan tata bahasa atau grammar visual. Prompt hanya digunakan untuk memulai percakapan, kemudian grammar menentukan bagaimana seluruh pengalaman visual dibangun. Tata bahasa ini pun bisa digunakan langsung oleh manusia.
Dengan demikian, keberhasilan sebuah karya Neo-Borobudur tidak diukur dari kemiripan terhadap contoh tertentu, tetapi dari kemampuannya menjaga konsistensi tata bahasa visual di tengah kemungkinan bentuk yang nyaris tak terbatas.
Seniman Pascakuas
Jika pada masa lalu seniman adalah penguasa medium, maka pada era AI saat ini, seniman semakin menjadi perancang sistem. Seniman dalam NeoBo, misalnya harus terlebih dahulu membangun ontologi karya, menentukan hukum visual, mengatur hubungan ruang dan waktu, menyusun ritme perhatian, mendesain kemungkinan pengalaman, dan seterusnya. Jadi, AI bekerja di dalam sistem tersebut, bukan di luar dirinya.
Karena itu, muncul sosok baru yang dapat disebut sebagai seniman pascakuas. Ia tidak lagi didefinisikan oleh alat yang digunakan, melainkan oleh kemampuannya membangun sistem penciptaan yang menghasilkan pengalaman estetis secara konsisten.
Dalam konteks ini, AI bukan pengganti tangan manusia. Ia menjadi medium baru yang bekerja di bawah horizon berpikir manusia.
Sebuah Kontribusi dari Indonesia
Perkembangan AI Art selama ini banyak didorong oleh eksplorasi data, algoritma, dan model komputasi. Refik Anadol mengubah data menjadi pigmen. Sougwen Chung membangun dialog antara tubuh manusia dan robot. Mario Klingemann mengeksplorasi kemungkinan kreativitas algoritmik.
Neo-Borobudur memasuki percakapan itu dari arah yang berbeda. Neo-Borobudur menawarkan sebuah tata bahasa visual yang dapat dipelajari, diterapkan, dan dikembangkan oleh manusia maupun AI untuk membangun pengalaman estetis yang berpusat pada perjalanan kesadaran.
Apabila praktik tersebut terus dikembangkan dan diuji melalui karya-karya yang konsisten, maka kontribusi Neo-Borobudur tidak terletak pada penciptaan gaya baru, melainkan pada perluasan cara kita memahami hubungan antara seni, budaya, dan kecerdasan buatan.



