DIALOG BERSAMA ARAHMAINI
DIALOG #1
NeoBo: Selama lebih dari empat dekade berkarya, bagaimana Anda melihat perubahan paling mendasar dalam seni kontemporer Indonesia?
Arahmaini: Sekarang yang diistilahkan sebagai “pendekatan interdisiplin” (dimana seni, science, filsafat & spiritualitas dipertemukan) didalam praktik seni kontemporer sudah diapresiasi. Jadi praktik seni disini bukan hanya focus di estetika saja. Bukti nyata karya-karya saya yang dibuat di tahun 80an – 90an yang seperti sulit dipahami dan bahkan disalah-pahami, kini sudah diapresiasi. Karya “Lingga-Yoni” sudah dikoleksi Musuem Macan dan karya “Etalase” sudah dikoleksi Galeri Nasional. Artinya sudah dipahami apa gagasan ataupun pemikiran dibalik karya-karya tersebut yang pada dasarnya menggunakan pendekatan interdisiplin.
NeoBo: Apa warisan terbesar seni kontemporer bagi perkembangan seni Indonesia?
Arahmaini: Kebebasan untuk mengeksplorasi ruang kreatif – sehingga bisa menstimulasi imajinasi & fantasi, untuk melihat kemungkinan-kemungkinan mengolah kehidupan supaya menjadi aman, nyaman dan membahagiakan. Yang tidak dibatasi dan hanya mengikuti aturan-aturan konservatif dan hanya untuk melayani kepentingan sekelompok orang dan kekuasaan
NeoBo: Menurut Anda, apakah istilah "seni kontemporer" masih cukup untuk memahami praktik seni hari ini, atau mulai memerlukan cara pandang baru?
Arahmaini: Kalau istilah bisa saja menggunakan : “seni kontemporer” – namun dipahami sebagai istilah yang pemaknaanya terbuka karena berhubungan dengan eksplorasi kreativitas manusia.
NeoBo: Tubuh menjadi medium penting dalam banyak karya Anda. Apa yang membuat tubuh tetap relevan sebagai ruang penciptaan seni?
Arahmaini: Tubuh adalah media yang terhubungkan langsung dengan pikiran maupun perasaan, yang merupakan bagian penting didalam proses pengolahan kreativitas dan komunikasi. Di dalam seni performance yang menggunakan tubuh sebagai media dasarnya menjadi lebih terbuka dan lebih bebas untuk explorasi kreatifitas. Juga memungkinkan untuk bisa langsung berkomunikasi dengan publik atau penonton. Dan bahkan berinteraksi atau berdialog juga mungkin. Yang tentunya bisa langsung merangsang imajinasi and fantasi. Sehingga karya bisa dikembangkan disaat ditampilkan.
NeoBo: Ketika AI mampu menghasilkan gambar, video, bahkan performa virtual, apakah tubuh manusia masih memiliki posisi yang tidak tergantikan dalam seni?
Arahmaini: Iya tubuh masih akan memiliki kekuatan dan keunikan yang tidak tergantikan ketika ditampilkan sebagai karya seni performance. Karena lewat interaksi dan komunikasi kemungkinan memunculkan ide-ide yang pada awalnya tidak terbayangkan – bisa terjadi!
Sedangkan jika hanya mengandalkan sistem teknologi seperti AI, saya tidak yakin bisa berinteraksi langsung dengan penonton atau publik. Tapi memang saya harus mengakui kalau teknologi ini masih bisa dikembangkan. Dan yang mengembangkanya manusia. Tapi apakah teknologi bisa “merasakan” langsung dan berinteraksi apalagi memiliki pemahaman dan kesadaran spiritual – saya masih mempelajarinya. Dan sampai sejauh ini sepertinya belum sampai secanggih itu!
NeoBo: Menurut Anda, apa pengalaman artistik yang hanya dapat lahir melalui kehadiran tubuh manusia?
Arahmaini: Pengalaman artistik itu bisa ditemukan lewat penggunaan berbagai macam media. Tubuh merupakan salah satu kemungkinanya. Seperti saya katakan diatas keistimewaan media tubuh adalah adanya kemungkinan untuk bisa langsung berkomunikasi dan berdialog dengan penonton atau “pihak liyan”. Tidak seperti eksplorasi kreatif yang hanya fokus pada diri sendiri.
NeoBo: Dalam banyak karya Anda, spiritualitas hadir sebagai pengalaman hidup, bukan sekadar simbol. Mengapa dimensi ini penting dalam praktik seni?
Arhamaini: Kesadaran spiritual adalah hal penting bagi manusia untuk bisa memaknai kehidupan secara benar. Selain bisa menjadi rujukan atau petunjuk untuk membangkitkan kesadaran akan maksud dan tujuan hidup di dunia ini. Kesadaran ini juga bisa membuat manusia memahami nilai-nilai & etika yang akan membuat manusia memahami tugas dan tanggung-jawab di dalam kehidupan ini.
Lalu hubunganya dengan praktik seni ataupun media seni – yang bisa menggabungkan pemikiran dan perasaan, tentunya bisa mengekpresikan nilai-nilai dan etika serta kesadaran yang harus kita pahami dan jangan sampai terlupakan.
NeoBo: Apakah menurut Anda seni Indonesia perlu membangun kembali hubungan dengan tradisi spiritualnya? Jika ya, bagaimana agar hal itu tidak jatuh pada romantisasi masa lalu?
Arahmaini: Iya betul – sebaiknya praktik seni dihubungkan kembali dengan tradisi spiritualnya. Yang sangat penting bagi manusia untuk kemudian bisa memahami makna kehidupan serta maksud dan tujuanya. Sebetulnya dimasa lalu didalam praktik seni budaya leluhur Nusantara hal ini sudah dipahami dan diekspresikan.
Untuk bisa mengerti dan tidak meromantisasikan masa lalu memang ajaran leluhur ini harus dipelajari dan dipahami secara serius dan benar. Sehingga kita tidak terjebak kedalam gaya atau pendekatan yang hanya menggangap tradisi budaya warisan leluhur sebagai sekedar hal yang eksotis.
NeoBo: Anda banyak bekerja bersama masyarakat di luar ruang galeri. Bagaimana pengalaman tersebut mengubah cara Anda memahami fungsi seni?
Arahmaini: Pengalaman bekerjasama dengan masyarakat memang memberi kesempatan untuk saya mempelajari berbagai hal atau masalah dalam kehidupan. Lalu secara kolektif membahas kemungkinan-kemungkinan dan mengeksplorasi ruang kreatif untuk menemukan solusi kreatif dan inoivatif atas berbagai permasalahan yang harus dihadapi masyarakat. Dan ternyata ketika kita bekerjasama dan bergotong-royong kita bisa menemukan solusi-solusi kreatif yang jika hanya dihadapi sendirian tidak terbayangkan akan muncul ide-ide baru dan kreatif yang bisa dikerjakan bersama-sama. Dan tentunya pengalaman ini juga akan merangsang imajinasi untuk menciptakan karya-karya dengan pendekatan yang tidak biasa – dan bisa dikerjakan bersama-sama secara kolektif.
NeoBo: Menurut Anda, apakah seni masa depan akan semakin menyatu dengan kehidupan sehari-hari, atau justru tetap membutuhkan ruang khusus sebagai wilayah refleksi?
Arahamaini: Seni masa depan harus bisa fleksibel untuk bisa menyatu dengan kehidupan sehari-hari disatu sisi. Dan disisi lain juga menjadi ruang khusus sebagai media refleksi. Dan dari pengalaman saya selama ini saya sudah belajar dan mamahami bahwa media seni adalah media yang sangat fleksibel.
NeoBo: Indonesia memiliki keberagaman budaya yang luar biasa. Bagaimana kekayaan tersebut dapat menjadi sumber penciptaan baru tanpa berhenti sebagai ornamen budaya?
Arahmaini: Betul – kekayaan budaya di negeri ini sebetulnya sangat luar biasa. Kekayaan ini tentunya bisa menjadi sumber inspirasi penciptaan karya-karya baru yang juga akan menjadi luar biasa jika kita memahami nilai-nilai dan makna budaya warisan leluhur ini secara benar.
NeoBo: Apa tantangan terbesar seni Indonesia dalam menghadapi masa depan?
Arahmaini: Tantangan terbesar kedepan bagi praktik seni Indonesia adalah bagaimana merespon permasalahan kehidupan yang semakin rumit dan kompleks. Masalah sosial, politik & ekonomi seperti sedang menghadapi krisis. Selain ancaman bencana kehancuran lingkungan hidup yang sudah melanda seluruh wilayah dunia!
NeoBo: Jika membayangkan dua puluh tahun mendatang, seperti apa praktik seni Indonesia yang Anda harapkan akan lahir?
Arahmaini: Saya pribadi berharap praktik seni akan berhubungan dengan tantangan dan permasalahan kehidupan. Menjadi media fleksibel untuk mempertemukan berbagai kemungkinan dan ekplorasi kreatifitas. Sehingga kita bisa menemukan solusi-solusi kreatif dan inovatif atas berbagai permasalahan yang kita hadapi.
NeoBo: Menurut Anda, pertanyaan apa yang seharusnya kita ajukan tentang seni Indonesia hari ini, tetapi belum banyak dibicarakan?
Arahmaini: Hubungan seni dengan peran dan fungsi pasar – selain hubungan dengan pihak penguasa atau pemerintah.here



