NeoBo- Ketika seseorang mendengar sebuah lagu, jarang orang memikirkan aturan yang membuat lagu itu dapat dipahami. Pendengar mengikuti melodi, ritme, dan harmoni tanpa harus mengetahui teori musik. Namun, di balik setiap komposisi terdapat seperangkat hubungan yang mengatur bagaimana nada-nada bekerja bersama.
Dalam bahasa yang kita gunakan, kita dapat membaca sebuah kalimat tanpa pernah mempelajari linguistik. Meskipun demikian, setiap kalimat, frasa atau klausa tetap mengikuti aturan yang memungkinkan kata-kata membentuk makna. Tanpa tata bahasa, kata-kata hanya menjadi kumpulan bunyi yang tidak saling berhubungan. Dalam 26 abjad kata-kata memungkinkan pelbagai bentuk dan makna: puisi, surat, cerpen, esai dan lainnya.
Apakah sebuah lukisan juga memiliki tata bahasa?
Pertanyaan ini telah lama menarik perhatian para sejarawan seni, psikolog persepsi, dan ahli semiotika. Mereka menggunakan istilah yang berbeda-beda. Ada yang berbicara tentang komposisi. Ada yang menekankan struktur visual. Ada pula yang membahas hubungan antarbentuk, warna, ruang, dan ritme. Meskipun istilahnya beragam, semuanya mengarah pada persoalan yang sama.
Sebuah karya tidak hanya terdiri atas unsur-unsur visual. Yang lebih penting adalah hubungan di antara unsur-unsur tersebut. Satu garis yang berdiri sendiri belum tentu bermakna. Namun, ketika garis itu bertemu dengan bidang, warna, arah, dan skala tertentu, ia mulai membentuk pengalaman visual yang utuh.
Dengan kata lain, seni tidak hanya berbicara melalui bentuk. Seni juga berbicara melalui aturan hubungan antarbentuk.
Pandangan ini membantu menjelaskan mengapa dua seniman dapat menggunakan warna yang sama, medium yang sama, bahkan tema yang sama, tetapi menghasilkan pengalaman yang sangat berbeda. Perbedaannya tidak selalu terletak pada unsur visual yang digunakan, melainkan pada cara unsur-unsur itu diorganisasikan.
Di sinilah muncul sebuah gagasan yang semakin penting dalam seni kontemporer. Karya yang diciptakan seorang seniman mungkin bukan hanya sebuah gambar, tapi juga cara gambar itu dapat hadir.
Jika demikian, cara pandang ini memiliki konsekuensi besar. Apabila yang menjadi inti adalah cara mengorganisasi hubungan visual, maka tindakan artistik tidak lagi berhenti pada satu objek. Ia dapat melahirkan banyak objek yang berbeda, selama semuanya mengikuti sistem hubungan yang sama.
Kita dapat melihat gejala tersebut dalam pelbagai bidang kreatif.
Seorang arsitek, misalnya merancang prinsip ruang yang kemudian diterapkan pada banyak bangunan. Seorang perancang huruf menciptakan sistem bentuk yang memungkinkan ribuan kata ditulis dengan identitas visual yang konsisten. Seorang komponis menulis partitur yang dapat dimainkan berulang kali oleh orkestra yang berbeda.
Dalam setiap contoh tersebut, identitas karya tidak terletak pada satu hasil tunggal. Identitas terletak pada sistem yang mengatur bagaimana hasil-hasil itu lahir.
Dengan logika demikian, bila seni memang memiliki tata bahasa, artinya apakah tata bahasa itu sendiri menjadi inti penciptaan artistik.
Pertanyaan ini berbeda dari perdebatan tentang AI dan promptnya, dan lebih menyentuh persoalan yang lebih mendasar, yaitu apakah seorang seniman dapat dipahami sebagai perancang tata bahasa visual, seperti halnya seni konseptual Sol Lewitt?
Baca: KABAR BAIK BUAT SENIMAN DAN KERA
Jika jawabannya mungkin, maka muncul pertanyaan berikutnya, yaitu bagaimana kita menilai sebuah tata bahasa visual?
Apa yang membuat satu sistem visual menghasilkan pengalaman yang kaya, sementara sistem lain hanya menghasilkan pengulangan tanpa makna?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi dasar bagi studi kasus berikutnya , untuk menguji apakah sebuah tata bahasa visual dapat bekerja sebagai tindakan artistik yang konsisten.
TATA BAHASA NEO-BOROBUDUR SEBAGAI SEBUAH EKSPERIMEN
Perdebatan mengenai kecerdasan buatan sering berpusat pada gambar yang dihasilkannya. Orang bertanya apakah AI dapat melukis, siapa pemilik karya, atau apakah algoritma dapat menggantikan seniman. Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting, tetapi semuanya hanya berangkat dari hasil akhir dan apriori.
Ada kemungkinan lain untuk memandang persoalan ini.
Bagaimana jika tindakan artistik tidak dimulai dari gambar, melainkan dari sistem yang memungkinkan gambar itu lahir?
Refik Anadol dan Mario Klingemann, misalnya mereka tak memulai dari hasil, tapi ada proses membangun sistem sebelum menghasilkan gambar melalui AI.
Baca: AI ART: Dari Refik Anadol hingga Mario Klingemann
Dalam linguistik, tata bahasa mengatur hubungan antarkata sehingga membentuk makna. Dalam musik, harmoni dan ritme mengatur hubungan antarnada sehingga menjadi komposisi. Dengan cara yang serupa, sebuah tata bahasa visual dapat dipahami sebagai seperangkat prinsip yang mengatur hubungan antarbentuk, warna, ruang, ritme, dan arah pandang sehingga menghasilkan pengalaman visual yang konsisten.
Dari sudut pandang ini, seorang seniman tidak hanya menciptakan satu gambar. Ia juga dapat menciptakan cara gambar-gambar itu terbentuk.
Neo-Borobudur dikembangkan sebagai sebuah eksperimen untuk menguji kemungkinan tersebut. Fokusnya bukan menghasilkan satu gaya visual tertentu, tapi merumuskan seperangkat prinsip operasional yang mengorganisasi pengalaman visual. Prinsip-prinsip seperti ruang–waktu–datar, fraksionasi naratif, pergerakan pradaksina, struktur bertingkat, kepadatan visual, dan ruang sunyata diposisikan sebagai unsur-unsur yang bekerja bersama membentuk pengalaman melihat.
Dalam kerangka ini, AI tidak dipahami sebagai pengganti seniman. AI diperlakukan sebagai salah satu medium yang dapat menjalankan tata bahasa visual yang telah dirancang sebelumnya. Jika medium berubah—dari tangan manusia, perangkat lunak grafis, hingga model AI—pertanyaan yang diuji tetap sama: apakah identitas visual yang dihasilkan masih mempertahankan koherensi sistemnya?
Eksperimen ini belum dimaksudkan sebagai jawaban final mengenai penciptaan artistik di era AI. Sebaliknya, Neo-Borobudur diajukan sebagai sebuah hipotesis yang dapat diuji. Jika tata bahasa visual mampu secara konsisten mengorganisasi pengalaman estetik di pelbagai medium, maka mungkin yang diciptakan seniman bukan hanya objek visual, melainkan juga sistem yang memungkinkan objek-objek tersebut lahir.
Karena itu, Neo-Borobudur tidak menawarkan definisi baru tentang seni. Ia menawarkan sebuah pertanyaan penelitian:
Dapatkah tata bahasa visual dipahami sebagai bentuk penciptaan artistik?




