Tetap Hadir (Remaining Present)
Catatan Kuratorial
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, kehadiran bukan lagi sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan sesuatu yang harus terus dibangun. Lukisan ini tidak menggambarkan pertentangan antara manusia dan percepatan, tetapi memperlihatkan bagaimana keduanya hidup berdampingan dalam satu pengalaman yang sama.
Melalui tata bahasa visual Neo-Borobudur, setiap bentuk berada dalam proses menjadi. Figur manusia, jejak gestur, lapisan material, dan ritme visual saling bertransformasi tanpa pernah mencapai bentuk akhir. Perhatian penonton terus berputar mengikuti lintasan pengalaman hingga akhirnya menemukan sebuah ruang hening—Sunyata—tempat persepsi diatur ulang sebelum kembali memasuki siklus berikutnya.
Apa yang perlahan muncul bukanlah tokoh, cerita, ataupun simbol, melainkan kehadiran (presence): pengalaman yang lahir dari akumulasi waktu, kerja tubuh, dan ingatan material, sementara arus percepatan terus beredar di sekelilingnya tanpa pernah sepenuhnya memasuki pusat kesadaran.
Metadata Karya
Judul
"Tetap Hadir (Remaining Present)"
Medium
Arcrilic on Canvas Dimensi200 × 120 cm
Tahun: 2026
Seniman: NeoBo
Tema
Presence Against Acceleration
(terinspirasi dari pemikiran Ugo Untoro mengenai kehadiran, kerja material, dan praktik berkesenian; bukan representasi figur, karya, maupun peristiwa tertentu)
Grammar Visual Neo-Borobudur yang digunakan:
1. Phenomenological
Experience
Presence Against Acceleration
Lukisan membangun pengalaman mempertahankan kehadiran (presence) di tengah dunia yang bergerak semakin cepat. apa yang divisualkan bukan konflik, melainkan keberlangsungan dua ritme yang hidup berdampingan.
2. Ontological Gravity
Presence
Seluruh perubahan bentuk, ritme, kepadatan, dan perhatian mengorbit pada pusat ontologis yang tak terlihat: Presence.
Pusat ini tidak pernah direpresentasikan sebagai objek, tetapi dirasakan melalui akumulasi material dan durasi.
3. Experience Loop
Embodied Awareness → Dialogue → Material Labor → Temporal Accumulation → Presence → Renewed Awareness
Siklus berlangsung terus-menerus tanpa mencapai penyelesaian akhir.
4. Experience
Operator
Responsibility → Attention → Material Practice → Temporal Memory → Presence
Operator ini mengarahkan transformasi pengalaman sepanjang lukisan.
5. Morphological
Reduction
Internal Evolution
Body → Gesture → Trace → Material Residue → Temporal Memory → Presence
External Evolution
Circulation → Visibility → Replacement → Acceleration → Forgetting
6. Morphogenesis
Seluruh bentuk terus berubah tanpa pernah selesai. Gestur menjadi garis, garis menjadi lapisan material, lapisan menjadi ritme ruang, lalu kembali membentuk kehadiran baru. Setiap transformasi menyimpan jejak keadaan sebelumnya.
7. Agencies
Body • Material • Time • Memory • Light • Silence • Presence
Tidak ada agensi yang dominan. Seluruhnya saling memengaruhi dalam keseimbangan yang terus berubah.
8. Relational Field
Hubungan dibangun antara ritme lambat dan ritme cepat tanpa oposisi biner. Setiap perubahan pada satu medan mengubah keseluruhan organisme visual.
9. Energy Map
Energi internal menguat melalui akumulasi material, kedalaman waktu, dan kehadiran tubuh. Energi eksternal bergerak cepat melalui sirkulasi, gangguan visual, dan pembaruan terus-menerus. Keduanya tetap berada dalam tegangan yang tidak pernah selesai.
10. Fraksionasi
Setiap fragmen merupakan keadaan temporal berbeda dari pengalaman yang sama. Tidak ada fragmen yang berdiri sendiri; semuanya saling meneruskan ingatan dan gerak.
11. RWD (Ruang–Waktu–Datar)
Ruang bersifat aktif dan datar. Kedalaman muncul melalui lapisan pengalaman, transparansi, deformasi simbolik, variasi skala, dan hubungan antarlapisan, bukan melalui perspektif linear.
12. Pradaksina
Lintasan perhatian dibangun melalui perbedaan kepadatan visual. Mata terus kembali pada jejak yang sama, tetapi selalu menemukan makna baru.
13. Density
Dominant Experiential
Field ±45%
Relational Transition ±30%
Trace Field ±15%
Sunyata ±10–15%
14. Sunyata
Ruang hening aktif sebagai medan jeda persepsi. Hampir tanpa bentuk dan tekstur, Sunyata menjadi tempat pengalaman diatur ulang sebelum perhatian kembali bersirkulasi.
15. Color Orientation
Selatan — Merah Tua
Timur — Putih
Barat — Hitam
Utara — Kuning
Pancer — Hijau
Transisi — Lavender
Warna bekerja sebagai orientasi pengalaman dan terus bermorfogenesis, bukan sebagai simbol emosi.
16. Material Behavior
Jejak kuas, lapisan cat, koreksi, pengerokan, serta perbedaan sapuan basah dan kering dipertahankan sebagai rekaman durasi kerja. Material menjadi memori yang tetap terbaca pada permukaan lukisan.
Hasil Pengalaman
Lukisan ini tidak menggambarkan Ugo Untoro ataupun praktik melukisnya. Melalui Grammar Visual Neo-Borobudur, karya menghadirkan pengalaman tentang bagaimana kehadiran lahir dari akumulasi waktu, kerja material, dan perhatian yang terus dipelihara, sementara percepatan dunia beredar di sekelilingnya tanpa pernah sepenuhnya memasuki pusat kesadaran.




