NeoBo - Suatu kali, lampu ruang tamu dinyalakan sedikit lebih redup dari biasanya di sebuah rumah. Pemiliknya berdiri beberapa langkah dari dinding, menggeser sebuah kursi beberapa sentimeter ke kiri. Lukisan yang baru dipasang akhirnya terlihat seimbang. Warna bingkainya serasi dengan lantai kayu. Ukurannya pas. Dari sofa utama, komposisinya terasa nyaman dipandang.
"Sudah pas," katanya.
Malam itu, para tamu datang. Mereka memuji rumah, pencahayaan, dan tentu saja lukisan itu yang menjadi pusat perhatian.
"Bagus sekali."
"Cocok dengan interiornya."
"Warnanya hidup."
Namun, percakapan penuh puja-puji itu berhenti di sana. Tak seorang pun di ruangan itu bertanya siapa pelukisnya. Tak seorang pun ingin mengetahui mengapa karya itu dibuat, dalam konteks apa ia lahir, atau gagasan apa yang sedang diperjuangkannya. Lukisan itu sepertinya telah selesai menjalankan tugasnya sebagai penghias dinding dengan sangat baik.
Pemandangan seperti itu tidak hanya terjadi di satu rumah. Ia berlangsung di apartemen, hotel, restoran, kantor, bahkan lobi gedung-gedung mewah. Sejak berabad-abad lalu, karya seni memang menjadi bagian dari ruang hidup manusia. Ia memperindah ruangan, menandai selera, kadang juga menunjukkan status sosial pemiliknya.
Cerita Lain
Namun sejarah seni menyimpan cerita lain. Ada jenis lukisan yang kehilangan maknanya ketika cat tembok diganti. Ada pula karya yang tetap dibicarakan meski dinding tempat pertama kali ia dipasang sudah lama tidak ada.
Pada 1937, ribuan orang memasuki Paviliun Spanyol di Pameran Dunia Paris. Mereka datang untuk melihat sebuah lukisan raksasa karya Pablo Picasso. Judulnya Guernica. Tidak ada yang membawanya pulang untuk disesuaikan dengan warna sofa. Tidak ada yang membicarakan apakah hitam-putihnya serasi dengan ruang tamu. Orang berdiri lama di depannya karena alasan yang sama sekali berbeda.
Lukisan itu membawa kabar tentang sebuah kota kecil di Basque yang baru saja dihancurkan oleh pemboman. Tubuh-tubuh yang terpecah, kuda yang meraung, ibu yang memeluk anaknya, semuanya memenuhi bidang kanvas sepanjang hampir delapan meter. Picasso tidak sedang menawarkan dekorasi. Ia sedang memaksa dunia melihat perang dengan cara yang tidak dapat diabaikan.
Bertahun-tahun kemudian, Guernica masih dipelajari, diperdebatkan, dikutip, dan dipamerkan. Lukisan itu bertahan bukan karena sekadar cat di atas kanvas, tapi daya hidup gagasan yang dikandungnya.
Sejarawan seni John Berger membuka Ways of Seeing dengan sebuah kalimat yang tampak sederhana:
"Seeing comes before words."
Sebelum manusia menjelaskan dunia, manusia lebih dahulu melihatnya.
Lengkapnya, "Seing comes before words. The child looks and recognizes before it can speak."
Karena itulah sebuah karya seni yang besar tidak berhenti pada keindahan visual, tapi kemampuannya mengubah cara melihat dunia.
Sebelumnya, ada cerita lain - di tahun 1917, seorang seniman Prancis mengirim sebuah urinoir porselen ke sebuah pameran di New York. Ia menandatanganinya dengan nama samaran: R. Mutt. Karya itu kemudian dikenal sebagai Fountain.
Panitia menolaknya. Mereka berpendapat benda itu tidak layak disebut seni. Penolakan tersebut justru menjadi salah satu peristiwa paling berpengaruh dalam sejarah seni modern.
Puluhan tahun kemudian, filsuf Arthur Danto menggunakan kasus-kasus semacam itu untuk menjelaskan bahwa dua benda yang tampak sama dapat memiliki makna yang sepenuhnya berbeda ketika memasuki apa yang ia sebut sebagai artworld—jaringan seniman, kurator, kritikus, museum, dan sejarah yang memungkinkan sebuah objek dipahami sebagai karya seni.
Dinding semata tidak pernah akan cukup menjelaskan sebuah karya. Sejarahnya ikut menempel, percakapannya juga ikut menempel. Cara orang membacanya juga ikut berubah.
Itulah sebabnya dua lukisan dengan ukuran, warna, bahkan kualitas teknik yang serupa bisa berbeda nilainya. Satu berhenti sebagai pelengkap interior. Satunya lagi masuk ke buku sejarah seni.
Baca: NILAI PERJALANAN KARYA SENI





