
Refik Anadol, Unsupervised (2022), Museum of Modern Art (MoMA), New York. Courtesy of Refik Anadol Studio.
NEOBO — Bayangkan memasuki sebuah museum, lalu menyaksikan dinding raksasa yang seolah sedang bermimpi. Warna-warna bergerak tanpa henti, bentuk-bentuk muncul lalu menghilang seperti ingatan yang terus menyusun dirinya sendiri.
Tidak ada pelukis yang berdiri di depan kanvas. Tidak ada kuas yang menyentuh cat. Yang bekerja adalah jutaan data dan kecerdasan buatan.
Pemandangan itulah yang disaksikan pengunjung Museum of Modern Art (MoMA), New York, ketika instalasi Unsupervised karya Refik Anadol dipamerkan pada 2022. Karya itu menjadi salah satu penanda penting bahwa seni rupa sedang memasuki babak baru, di mana algoritma, robot, dan kecerdasan buatan bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi bagian dari proses penciptaan itu sendiri.
Selama berabad-abad, seni rupa dibangun di atas hubungan langsung antara tubuh seniman dan medium. Kuas, kanvas, batu, logam, hingga tanah liat menjadi perpanjangan tangan manusia. Kreativitas dipahami sebagai hasil gestur personal seorang individu.
Kini, definisi tersebut mulai bergeser. Muncul generasi seniman yang tidak lagi “melukis” dengan cat, melainkan dengan data, jaringan saraf buatan, robot, hingga sistem algoritmik. Di tengah perkembangan itu, tiga nama menjadi rujukan penting dalam percakapan global mengenai AI Art: Refik Anadol, Sougwen Chung, dan Mario Klingemann.
Meski sama-sama memanfaatkan kecerdasan buatan, ketiganya menawarkan jawaban yang sangat berbeda atas pertanyaan apa sih itu seni, siapa sebenarnya pencipta karya, dan bagaimana pengalaman estetis dibangun?
Data Sebagai Pigmen
Bagi Refik Anadol, data adalah material artistik. Jika pelukis tradisional mencampur warna di atas palet, Anadol mengolah jutaan bahkan miliaran data menjadi “pigmen” visual. Arsip museum, citra satelit, data cuaca, rekaman hutan hujan, hingga memori digital kota diproses menggunakan pembelajaran mesin untuk menghasilkan visual yang terus berubah.
Pendekatan tersebut mencapai salah satu puncaknya melalui Unsupervised, instalasi monumental setinggi lebih dari tujuh meter yang dilatih menggunakan ratusan ribu karya koleksi MoMA.
Alih-alih menampilkan reproduksi lukisan, AI menghasilkan aliran bentuk visual yang terus bermetamorfosis, seolah museum sedang “bermimpi” tentang koleksinya sendiri. Karya itu kemudian menjadi instalasi generatif berbasis AI pertama yang diakuisisi secara resmi oleh MoMA.
Ketika Mesin Bermimpi
Salah satu konsep paling dikenal dari Anadol adalah Machine Hallucinations. Pertanyaannya sederhana saja, yaitu bagaimana jika mesin memiliki mimpi?
Dalam proyek ini, AI dilatih menggunakan jutaan gambar, lalu dibiarkan membangun asosiasi visualnya sendiri. Hasilnya bukan salinan dunia nyata, melainkan lanskap abstrak yang mengalir seperti memori cair.
Istilah “halusinasi” merupakan metafora atas cara jaringan saraf buatan membentuk hubungan visual yang sebelumnya tidak pernah ada. Melalui pendekatan tersebut, AI tidak lagi diposisikan sekadar sebagai alat rendering, melainkan sebagai sistem yang mampu membuka kemungkinan estetika baru.
Ketika Kota Menjadi Kanvas
Eksperimen Anadol tidak berhenti di ruang galeri. Melalui proyek WDCH Dreams, permukaan Walt Disney Concert Hall karya Frank Gehry di Los Angeles berubah menjadi layar raksasa yang menampilkan visual hasil pengolahan arsip Los Angeles Philharmonic.
Hal serupa juga terjadi ketika ia menjadi seniman pertama yang memenuhi permukaan Las Vegas Sphere dengan karya AI berskala kota. Bangunan tidak lagi menjadi objek arsitektur semata. Kota berubah menjadi ruang pamer.
Robot yang Melukis Bersama Manusia
Jika Refik Anadol berbicara mengenai data, maka Sougwen Chung berbicara mengenai hubungan. Seniman Tionghoa-Kanada ini mengembangkan sistem robot bernama D.O.U.G. (Drawing Operations Unit) yang melukis bersama dirinya pada kanvas yang sama.
Awalnya robot hanya meniru gerakan tangan Chung. Namun setelah dilatih menggunakan ribuan arsip goresannya selama bertahun-tahun, robot mulai mampu memberikan respons visual secara mandiri. Hubungan itu tidak lagi bersifat satu arah. Robot bukan sekadar alat, tapi menjadi rekan kreatif.
Pada eksperimen yang lebih mutakhir, Chung bahkan menggunakan sensor EEG dan biosensor tubuh sehingga aktivitas biologisnya diterjemahkan menjadi gerakan lengan robot secara langsung. Dalam praktiknya, karya seni lahir dari dialog antara tubuh biologis dan tubuh mekanis.
Ketika Mesin Menjadi Seniman
Mario Klingemann membawa pertanyaan tersebut lebih jauh. Seniman asal Jerman yang dikenal dengan nama Quasimondo ini mempertanyakan bagaimana jika mesin benar-benar menjadi seniman?
Klingemann kemudian membangun sistem algoritmik yang mampu menghasilkan ribuan bahkan jutaan gambar secara mandiri. Peran manusia pun bergeser. Di sini manusia tidak lagi menggambar, manusia memilih.
Dalam pandangan Klingemann, seniman masa depan mungkin lebih menyerupai kurator yang merancang sistem kreatif, lalu mengamati berbagai kemungkinan visual yang diproduksi algoritma.
Gagasan itu tampak jelas pada karya Memories of Passersby I, sebuah komputer yang terus menghasilkan wajah-wajah manusia yang tidak pernah benar-benar ada. Tidak ada karya final, tapi yang ada hanyalah proses penciptaan tanpa akhir.
Botto dan Pertanyaan Belum Terjawab
Eksperimen Klingemann mencapai bentuk paling radikal melalui proyek Botto. Setiap minggu, sistem AI tersebut menghasilkan ribuan gambar. Komunitas global kemudian memberikan suara untuk memilih karya terbaik yang selanjutnya dipasarkan sebagai karya seni digital.
Di titik ini muncul pertanyaan yang semakin relevan pada era AI.
Siapa sebenarnya seniman? Apakah algoritmanya? Programmer yang membangunnya? Komunitas yang memilih hasilnya? Atau justru keseluruhan sistem yang bekerja secara bersama?
Jawabannya tentu saja akan bergam. Namun setidaknya, pertanyaan itu kini menjadi salah satu perdebatan paling penting dalam estetika abad ke-21.
Tiga Jalan Berbeda
Refik Anadol menjadikan AI sebagai medium untuk mentransformasikan data menjadi pengalaman visual imersif. Sougwen Chung menjadikan AI sebagai mitra dialog kreatif antara manusia dan mesin. Sementara Mario Klingemann mengeksplorasi kemungkinan hadirnya kreativitas algoritmik yang relatif otonom.
Keiga perbedaan tersebut menunjukkan bahwa AI Art bukanlah satu aliran tunggal, melainkan sebuah lanskap yang akan terus berkembang.
Bukan Menggantikan Seniman
Di tengah perkembangan AI, kekhawatiran terbesar publik adalah hilangnya peran manusia dalam proses kreatif. Namun praktik ketiga seniman itu justru memperlihatkan arah yang berbeda. AI tidak menghapus seniman, tapi AI mengubah makna menjadi seniman.
Jika sebelumnya kreativitas diidentikkan dengan kemampuan menghasilkan bentuk visual secara langsung, kini kreativitas semakin bergeser ke kemampuan merancang sistem, memilih data, membangun aturan, mengelola interaksi, dan menyusun pengalaman yang kemudian melahirkan karya.
Dengan kata lain, pusat kreativitas berpindah dari produksi bentuk menuju desain kemungkinan.
Related posts




