Ketika mendengar nama NeoBo, mungkin orang mengira ia adalah gaya melukis atau gerakan seni baru. NeoBo memang lahir dari praktik seni rupa, tetapi ruang kerjanya tidak berhenti pada seni. NeoBo adalah sebuah sistem operasional visual yang mengorganisai pengalaman. NeoBo dalam hal ini adalah grammar visual, yaitu seperangkat prinsip yang mengatur bagaimana ruang, waktu, bentuk, warna, dan perhatian bekerja bersama membentuk pengalaman visual.
Karena itu, NeoBo bukan sekadar metode membuat gambar, dan bukan pula upaya meniru bentuk Borobudur. Borobudur menjadi titik berangkat untuk mempelajari bagaimana sebuah sistem visual dapat mengarahkan cara manusia melihat, bergerak, dan memahami ruang. Dari pembacaan tersebut, NeoBo mengembangkan prinsip-prinsip yang dapat diterapkan pada berbagai bidang.
Sebagai sebuah sistem visual, NeoBo bersifat lintas disiplin. Prinsip-prinsipnya dapat digunakan dalam seni rupa, desain komunikasi visual, arsitektur, ilustrasi, animasi, komik, media digital, pendidikan, hingga pengembangan budaya visual. Yang dipindahkan bukan bentuknya, melainkan cara berpikir dan cara mengorganisasi pengalaman visual.
NeoBo juga bukan teori yang selesai. Ia merupakan sistem yang terus berkembang melalui penelitian, eksperimen, dan praktik. Setiap penerapan membuka kemungkinan baru, sementara setiap temuan baru memperkaya grammar yang telah ada. Dengan demikian, NeoBo bukan hanya sesuatu yang dipelajari, tetapi juga sesuatu yang terus dikembangkan.

