Apa yang membuat sebuah gambar bermakna? Apakah karena apa yang digambarkannya, atau karena cara gambar itu membentuk pengalaman kita? NeoBo berangkat dari pertanyaan ini. Bagi NeoBo, visual bukan sekadar media representasi, tetapi sebuah sistem yang mengorganisasi cara manusia memperhatikan, bergerak, mengingat, dan memahami dunia.
Karena itu, NeoBo tidak memisahkan ruang, waktu, bentuk, dan warna sebagai unsur-unsur yang berdiri sendiri. Semuanya bekerja secara bersamaan membentuk sebuah pengalaman visual.
Sebuah garis tidak hanya menentukan bentuk, tetapi juga mengarahkan gerak. Sebuah ruang tidak hanya menjadi latar, tetapi mengatur hubungan antarobjek. Warna tidak hanya menghadirkan suasana, tetapi juga membangun orientasi dan ritme visual.
Pandangan ini berkembang melalui pembacaan terhadap Borobudur sebagai sebuah sistem visual. Yang dipelajari bukan sekadar makna simbolik relief atau bentuk arsitekturnya, melainkan bagaimana keseluruhan susunan visual bekerja sebagai pengalaman yang dialami melalui tubuh, gerak, dan waktu.
Dari sinilah NeoBo mengembangkan cara berpikir yang melihat visual sebagai proses, bukan sebagai objek yang berdiri sendiri.
NeoBo percaya bahwa sebuah karya visual tidak berhenti ketika selesai dibuat. Ia baru benar-benar hadir ketika seseorang bergerak, memperhatikan, dan membangun hubungan dengannya. Dengan demikian, visual bukan hanya sesuatu yang dilihat, tetapi sesuatu yang dialami.

