PAGI HINGGA MALAM
Catatan Kuratorial
Pagi hingga Malam tidak berbicara tentang pergantian waktu dalam pengertian astronomis. Lukisan ini memandang pagi dan malam sebagai dua keadaan kesadaran yang terus bergerak di dalam kehidupan manusia. Setiap hari bukan sekadar rangkaian jam, melainkan perjalanan melalui berbagai pengalaman, peristiwa, ingatan, dan perjumpaan yang membentuk cara seseorang memahami dunia.
Seluruh bidang kanvas dibangun melalui fraksionasi—penyebaran pengalaman ke dalam fragmen-fragmen yang tampak berdiri sendiri, tetapi sesungguhnya saling terhubung. Sosok manusia, bangunan, pepohonan, stupa, bulan, matahari, dan berbagai bentuk simbolik hadir sebagai simpul-simpul pengalaman. Tidak ada satu narasi yang dominan. Penonton diajak merangkai sendiri hubungan di antara fragmen-fragmen tersebut sebagaimana manusia menyusun makna dari kehidupan sehari-harinya.
Di tengah komposisi, sebuah spiral besar mengarahkan perhatian bergerak perlahan menuju pusat. Spiral ini bukan ornamen, melainkan lintasan pradaksina—cara pandang NeoBo yang memahami pengalaman sebagai perjalanan yang terus berputar, kembali, dan menemukan makna baru pada setiap putarannya. Mata tidak berhenti pada satu objek, tetapi terus mengembara melintasi berbagai lapisan visual.
Peralihan warna dari bidang gelap di sisi kiri menuju bidang terang di sisi kanan menghadirkan pengalaman ruang dan waktu secara simultan. Pagi dan malam tidak dipisahkan sebagai dua momen yang saling berlawanan, melainkan hadir bersamaan dalam satu bidang kesadaran. Dengan demikian, lukisan ini tidak menggambarkan perubahan waktu, tetapi memperlihatkan bagaimana berbagai keadaan hidup dapat hadir secara serentak di dalam ingatan dan pengalaman.
Sebagai sebuah karya NeoBo, Pagi hingga Malam tidak menggunakan perspektif tunggal. Ruang dibangun melalui pelapisan bidang, hubungan antarfragmen, dan ritme perhatian. Kedataran kanvas tetap dipertahankan, namun pengalaman kedalaman muncul dari hubungan antarelemen, bukan dari ilusi perspektif. Inilah prinsip Ruang–Waktu–Datar (RWD) yang menjadi salah satu tata bahasa visual NeoBo.
Pada akhirnya, Pagi hingga Malam mengajak penonton melihat bahwa kehidupan tidak pernah bergerak secara linear. Setiap hari adalah pertemuan antara masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan; antara terang dan gelap; antara kesibukan dan keheningan. Lukisan ini tidak menawarkan sebuah cerita yang harus diikuti, melainkan sebuah medan pengalaman yang dapat dimasuki, dijelajahi, dan dimaknai secara berbeda oleh setiap orang.
Metadata
Judul: Pagi hingga Malam
Tahun: 2026Medium: Akrilik di atas kanvas
Ukuran: 100 × 100 cm
Seri: Neo-Borobudur
Grammar NeoBo: Fraksionasi · Spiral/Pradaksina · RWD · Simultanitas · Active Flatness · Orientasi Warna · Sunyata (implisit)





