logo4

Dialog #2 Ugo Untoro

  • Home
  • Journal Dialog
  • Dialog #2 Ugo Untoro
Published by Tim Redaksi on July 24, 2026
Categories
  • Dialog
Tags

NEOBO – Dalam beberapa dekade terakhir, seni rupa bergerak semakin terbuka. Batas antara lukisan, instalasi, video, performans, praktik partisipatoris, hingga media digital semakin sulit dipisahkan. Di saat yang sama, perkembangan internet, media sosial, dan kecerdasan buatan membuat citra diproduksi dan diedarkan dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seni bukan hanya menghadapi perubahan medium, tetapi juga perubahan ritme.
Di tengah situasi tersebut, muncul pertanyaan yang sederhana namun mendasar: mengapa masih melukis?
Pertanyaan ini bukan sekadar menyangkut pilihan medium. Ia menyentuh cara seorang seniman memahami waktu, tubuh, material, dan proses penciptaan. Ketika hampir semua hal bergerak semakin cepat, apakah masih ada ruang bagi praktik yang tumbuh perlahan? Ketika gambar dapat diproduksi tanpa batas, apakah lukisan masih menawarkan pengalaman yang berbeda? Namun, secara utuh dialog ini dibagi menjadi empat bagian.
Percakapan bersama Ugo Untoro berangkat dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selama ini Ugo dikenal sebagai pelukis yang konsisten mempertahankan hubungan yang dekat dengan kerja tangan, material, dan pengalaman personal. Alih-alih mengejar kebaruan sebagai tujuan, praktiknya justru menunjukkan bahwa pembaruan sering lahir dari kesediaan untuk terus bekerja, mengulang, menerima kegagalan, dan membiarkan karya menemukan bentuknya sendiri.
Menariknya dari pandangan Ugo ini adalah bahwa ia tidak melihat masa depan seni sebagai lahirnya manifesto baru atau gerakan besar berikutnya. Di tengah dunia yang semakin cepat, ia justru mengusulkan pentingnya menjaga ritme, kesabaran, dan kejujuran dalam bekerja. Dalam pandangannya, tantangan terbesar seniman hari ini bukan lagi sekadar menemukan medium baru, tapi mempertahankan kedalaman pengalaman ketika karya diproduksi di bawah tekanan visibilitas, pasar, dan arus gambar yang tidak pernah berhenti.
Karena itu, percakapan ini tidak dimaksudkan untuk mempertanyakan apakah lukisan masih relevan. Yang ingin dijelajahi adalah persoalan yang lebih luas, ialah bagaimana seni mempertahankan pengalaman yang tidak dapat dipercepat. Jika dunia seni sedang memasuki fase baru setelah seni kontemporer, mungkinkah perubahan itu tidak ditandai oleh lahirnya medium baru, melainkan oleh cara baru memahami waktu, proses, dan kehadiran?
Melalui percakapan ini, NeoBo Dialog mengundang pembaca untuk melihat kembali bahwa masa depan seni mungkin tidak selalu hadir sebagai revolusi yang gaduh. Bisa jadi ia tumbuh perlahan, melalui praktik-praktik yang tetap percaya pada kerja, pada material, dan pada waktu yang dibutuhkan sebuah karya untuk benar-benar menjadi dirinya sendiri.

 

DIALOG #2 UGO UNTORO

NeoBo: Ketika semua medium dianggap setara, mengapa Anda masih memilih melukis?

Ugo Untoro: Karena melukis adalah medium yang paling jujur menampilkan jejak tangan dan waktu. Ketika instalasi, video, atau seni performatif bisa didelegasikan, dipotong, diedit ulang, lukisan tetap merekam setiap keraguan dan keputusan secara langsung di atas permukaannya tidak ada undo. Bagi saya itu bukan soal medium mana yang lebih unggul, tapi soal medium mana yang paling dekat dengan cara saya berpikir dan bekerja: pelan, fisik, dan penuh kecelakaan yang harus saya terima.

NeoBo: Apa yang masih bisa dilakukan lukisan yang tidak bisa dilakukan medium lain?

Ugo Untoro: Lukisan bisa menahan waktu tanpa harus dijelaskan. Ia tidak butuh durasi pemutaran, tidak butuh ruang gelap, tidak butuh teks kuratorial untuk mulai bicara cukup dilihat dari jarak satu langkah. Goresan yang gagal, yang ditumpuk, yang dibiarkan retak, semuanya tetap ada di sana sebagai bagian dari isi karya, bukan disembunyikan. Itu kejujuran material yang sulit dicapai medium lain.

NeoBo: Apakah melukis hari ini masih memiliki tantangan yang sama seperti dua puluh tahun lalu?

Ugo Untoro: Tantangan dasarnya sama: bagaimana membuat gambar yang tidak basi, yang tidak sekadar mengulang gerakan sendiri. Yang berubah adalah tekanannya dulu tantangan datang dari perdebatan medium dan legitimasi seni rupa kontemporer, sekarang datang dari kecepatan sirkulasi gambar itu sendiri. Lukisan sekarang bersaing dengan miliaran gambar yang lewat di layar tiap hari, jadi tantangannya bergeser dari 'apakah melukis masih relevan' menjadi 'bagaimana lukisan tetap punya kehadiran fisik yang tidak bisa digantikan gambar digital'.

Neobo: Menurut Anda, apakah seni Indonesia membutuhkan bahasa visual baru?

Ugo Untoro: Bukan bahasa visual yang baru sama sekali, tapi kejujuran baru dalam memakai bahasa visual yang sudah ada. Banyak karya berhenti pada pengulangan gestur yang sudah dianggap 'aman' secara pasar maupun kuratorial. Yang dibutuhkan bukan kosakata baru, tapi keberanian mempertanyakan ulang kosakata lama sampai ia berbunyi jujur lagi.

NeoBo: Apa yang membuat sebuah karya terasa berasal dari Indonesia tanpa harus menggunakan simbol-simbol tradisional?

Ugo Untoro: Cara berpikir dan cara menyelesaikan masalah dalam karya itu sendiri cara berimprovisasi dengan keterbatasan, cara membiarkan sesuatu terlihat belum selesai, cara humor dan kegetiran berdampingan tanpa canggung. Itu semua lahir dari pengalaman hidup di sini, bukan dari motif batik atau wayang yang ditempel di permukaan karya. Identitas itu ada di logika kerja, bukan di ornamen.

NeoBo: Apakah gaya masih penting?Ugo Untoro: Gaya penting selama ia adalah akibat, bukan tujuan. Kalau gaya dikejar duluan supaya karya gampang dikenali, ia jadi kemasan. Tapi kalau gaya muncul karena seniman jujur mengulang cara kerjanya sampai jadi ciri yang tak disengaja, itu bagian dari kejujuran berkarya, bukan strategi branding.

NeoBo: Baik, sekarang apa yang menurut Anda mulai berubah dalam praktik seni hari ini?

Ugo Untoro: Jarak antara membuat karya dan memamerkannya semakin pendek semua serba cepat diunggah, dipamerkan, dijual. Proses gagal dan mengendap yang dulu jadi bagian penting pematangan karya kini sering dilewati karena tekanan produksi dan visibilitas. Itu perubahan yang paling saya rasakan, lebih dari sekadar perubahan gaya atau medium.

NeoBo: Jika seni kontemporer bukan lagi satu-satunya horizon, apa kemungkinan berikutnya?

Ugo Untoro: Kemungkinannya bukan gerakan besar baru dengan nama dan manifesto, tapi praktik-praktik kecil yang lebih personal dan lebih lambat, yang tidak buru-buru mencari label. Horizon berikutnya mungkin bukan satu arah tunggal lagi, melainkan banyak jalur kecil yang berjalan bersamaan tanpa perlu saling menggantikan.

NeoBo: Apa yang paling sulit menjadi seniman hari ini?

Ugo Untoro: Menjaga kesabaran di tengah tuntutan untuk selalu terlihat produktif dan terlihat relevan di media sosial. Godaan terbesar bukan lagi soal teknik atau ide, tapi soal ritme bagaimana tetap bekerja pelan ketika semua orang di sekitar terlihat bergerak cepat.

NeoBo: Nasihat apa yang ingin Anda sampaikan kepada seniman muda?

Ugo Untoro: Jangan buru-buru mencari gaya. Kerjakan dulu sebanyak-banyaknya, biarkan tangan menemukan caranya sendiri lewat pengulangan dan kegagalan. Gaya yang dicari akan terasa dipaksakan; gaya yang ditemukan lewat kerja panjang akan terasa jujur.

NeoBo: Pertanyaan apa yang belum kita ajukan tentang seni Indonesia?

Ugo Untoro: Belum banyak yang bertanya bagaimana seniman di luar Jawa, di luar lingkaran pasar dan institusi besar, mendefinisikan sendiri apa yang penting bagi mereka tanpa harus menerjemahkan karya mereka ke dalam kerangka wacana yang datang dari pusat.

NeoBo: Menurut Anda, pertanyaan apa dari GSRB yang masih relevan bagi seniman hari ini, dan pertanyaan apa yang sudah berubah?

Ugo Untoro: Pertanyaan GSRB soal siapa yang berhak menentukan apa itu seni, dan seni untuk siapa, masih sangat relevan kekuasaan kuratorial dan pasar sekarang jauh lebih besar dan lebih global dibanding tahun 1975. Yang sudah berubah adalah musuh yang dilawan: dulu GSRB melawan kemapanan akademi dan seni lukis dekoratif, sekarang tantangannya lebih cair melawan kecepatan sirkulasi gambar dan tekanan pasar seni global yang jauh lebih rumit dari sekadar oposisi akademi versus pembaruan.

Share
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Support by:
Explore

NeoBo
Research
Pradaksina
NeoBo Lab
Characters
Academy

Resources

Journal
Shop
Community
About

Legal

Privacy Policy
Term of Use
Cookie Policy

© 2026 NeoBorobudur. All Rights Reserved. Design by NeoBo Lab

✕
logo2
  • Home
  • NeoBo
    • Manifesto
    • Philosophy
    • What is NeoBo
    • Visual Grammar
  • Academy
    • Articles
    • Essays
    • Visual Dictionary
    • Visual Analysis
    • Glossary
    • Reading List
    • Video
    • Workshop
    • Courses
    • Download
    • Research
      • Borobudur
      • Visual Culture
      • Semiotics
      • Space
      • Time
      • Color
      • Field Notes
      • Bibliography
      • Papers
  • Design Lab
    • Painting
    • Architecture
    • Interior
    • Fashion
    • Graphic Design
    • Poster
    • Furniture
    • Art Toys
    • Animation
    • AI Experiment
    • Public Space
    • Mural
    • Komik Neobo
  • Journal
    • Esai
    • Dialog
    • Berita
    • Kritik
  • Shop
  • Community
  • About
✕

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by