Metadata
Karya:
Judul:
Pradaksina I: Perjalanan Menuju Sunyata
Tahun:
2026
Medium:
Akrilik di atas kanvas
Ukuran:
150 × 200 cm
Pradaksina I: Perjalanan Menuju Sunyata
Catatan Kuratorial
Pradaksina I: Perjalanan Menuju Sunyata merupakan salah satu karya awal yang menandai lahirnya praktik visual NeoBo. Lukisan ini tidak berusaha menceritakan sebuah peristiwa atau menghadirkan kisah yang selesai, melainkan mengorganisasi pengalaman sebagai sebuah perjalanan kesadaran. Yang bergerak di dalam karya ini bukan hanya tokoh-tokohnya, tetapi juga perhatian penonton.
Di dalam tradisi NeoBo, pradaksina dipahami sebagai gerak mengelilingi pusat, bukan untuk kembali ke titik semula, melainkan untuk mengalami perubahan cara melihat. Prinsip inilah yang membentuk komposisi lukisan. Sebuah lintasan spiral mengarahkan mata memasuki ruang demi ruang, melewati ratusan fragmen pengalaman sebelum tiba pada sebuah bidang hening yang menjadi pusat komposisi. Spiral tersebut tidak hadir sebagai simbol dekoratif, tetapi sebagai struktur perhatian yang menghubungkan seluruh elemen visual.
Sepanjang lintasan itu, berbagai figur kecil muncul sebagai representasi kehidupan sehari-hari. Mereka berjalan, berlari, bekerja, bermain, bertemu, dan berpisah. Tidak ada tokoh utama. Setiap figur adalah simpul pengalaman yang membentuk perjalanan kolektif manusia. Fragmen-fragmen visual di sekelilingnya—arsitektur, tanda, simbol, lanskap, dan jejak-jejak kebudayaan—tidak disusun secara kronologis, melainkan hadir secara simultan. Masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan berada dalam satu bidang pengalaman yang sama.
Di sisi kiri bawah muncul sosok Anak Fraksi, figur yang menandai awal perjalanan kesadaran. Ia tidak berfungsi sebagai pahlawan atau karakter naratif, melainkan sebagai metafora bagi manusia yang mulai menyadari bahwa dunia tidak pernah hadir sebagai satu kesatuan yang utuh. Kehidupan selalu dijumpai dalam bentuk fragmen-fragmen yang harus dipahami melalui pengalaman.
Di pusat spiral berdiri sosok Boro, salah satu agen visual NeoBo. Ia berada di ambang sebuah ruang putih yang luas—Sunyata. Dalam NeoBo, Sunyata bukan ruang kosong yang pasif, melainkan ruang hening yang memungkinkan seluruh pengalaman memperoleh jarak dan makna. Kehampaan di sini bukan akhir perjalanan, melainkan titik di mana perhatian berhenti sejenak sebelum kembali memandang dunia dengan kesadaran yang baru. Karena itu, ruang terang yang mendominasi bagian kanan lukisan tidak dibaca sebagai kekosongan, tetapi sebagai ruang kemungkinan.
Lukisan ini juga memperlihatkan prinsip Fraksionasi, yaitu penyebaran pengalaman ke dalam unit-unit yang otonom namun saling berhubungan. Tidak ada perspektif tunggal yang menguasai komposisi. Ruang dibangun melalui hubungan antarfragmen, kepadatan visual, ritme perhatian, dan perjumpaan berbagai lapisan pengalaman. Kedataran kanvas tetap dipertahankan, tetapi kedalaman muncul dari cara mata bergerak menelusuri lintasan pradaksina. Dengan demikian, ruang, waktu, dan bidang hadir secara bersamaan sebagai satu pengalaman visual, sesuai prinsip Ruang–Waktu–Datar (RWD) yang menjadi dasar tata bahasa NeoBo.
Sebagai karya pembuka, Pradaksina I: Perjalanan Menuju Sunyata tidak dimaksudkan untuk memberikan jawaban, melainkan mengajukan sebuah kemungkinan baru dalam seni rupa: bahwa lukisan tidak hanya dapat menjadi objek yang dilihat, tetapi juga sebuah sistem yang mengorganisasi pengalaman. Penonton tidak diminta mencari makna tunggal, melainkan memasuki perjalanan perhatian yang perlahan mengubah cara memandang hubungan antara diri, dunia, dan kesadaran.
Related posts





