NEOBO

About Us

Sejarah

NeoBo berawal dari serangkaian diskusi yang berlangsung pada tahun 2012 di Empang Ajip Rosidi, Mungkid, Magelang. Pertemuan tersebut mempertemukan sejumlah seniman muda yang memiliki ketertarikan untuk merumuskan identitas seni rupa Indonesia yang berakar pada pengalaman dan budaya Nusantara.

Pada masa itu, gagasan tersebut dikenal dengan nama Gerakan Wimba Indonesia, terinspirasi oleh semangat pembaruan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (1975) serta pemikiran Bahasa Rupa yang dikembangkan oleh Primadi Tabrani.

Seiring berjalannya waktu, Ranang Aji SP memperluas arah penelitian dengan menjadikan Borobudur sebagai objek kajian utama. Melalui penelitian yang berkelanjutan, lahirlah Neo-Borobudur (NeoBo) sebagai sebuah grammar visual yang memandang Borobudur bukan sekadar monumen sejarah, tetapi sistem operasional visual yang mampu mengorganisasi ruang, waktu, dan pengalaman.

Pengembangan NeoBo kemudian memperoleh dukungan melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, serta terus berkembang sebagai platform riset, penciptaan, pendidikan, dan kolaborasi budaya visual.

Visi
Mewujudkan budaya visual yang memperluas cara manusia memahami, mengalami, dan membayangkan dunia melalui grammar visual yang berakar pada pengetahuan, kreativitas, dan kolaborasi. Berangkat dari warisan budaya Nusantara, seperti Borobudur, dan terbuka terhadap perkembangan global, NeoBo berupaya menghadirkan gagasan, karya, dan pengalaman yang memperkaya percakapan budaya dunia serta menginspirasi lahirnya generasi baru kreator, peneliti, dan institusi budaya.

Misi
Mengembangkan Grammar Visual NeoBo melalui penelitian, penciptaan karya, pendidikan, publikasi, dan kolaborasi lintas disiplin. NeoBo membangun ekosistem yang menghubungkan seni, desain, arsitektur, media digital, teknologi, dan budaya visual untuk menghasilkan karya, pengetahuan, serta pengalaman yang relevan dengan masyarakat kontemporer. Melalui inovasi dan kerja sama, NeoBo berupaya memperluas apresiasi terhadap budaya visual Indonesia sekaligus mendorong kontribusinya dalam lanskap budaya internasional.

Ranang Aji P

Ranang Aji SP is an Indonesian writer and artist who lives in Magelang. In addition to producing literary works such as short stories, poetry, and novels, Aji has also produced theoretical works such as the “fractionation technique,” which is applied in theater and visual arts. His play The Rise of Don Quixote (the book version of "The Resurrection of Don Quixote") won first prize in the 2025 Jakarta Arts Council (DKJ) Theater Competition.

The script, which has been staged by three theater groups in Jakarta (2026), utilizes the “fractionation technique.” Additionally, Aji contributed the concept of a “mode of reading” called Daya Gerak (DaGer), which was published in a book titled "Daya Gerak: Kartografi Energi Sastra dan Episteme Zaman" (Nyala, 2026).

Through the Indonesiana endowment fund and the LPDP, the Ministry of Culture of the Republic of Indonesia provided Ranang Aji SP with support to create “Neo-Borobudur”—a concept that translates the philosophy or operational system of Borobudur into a visual grammar that can be applied across various visual media.