
Hallyu, Cool Japan, Wuxia, dan Hollywood Menguasai Dunia Tanpa Menembakkan Peluru
NeoBo – Tidak ada satu pun tentara Korea Selatan yang mendarat di Jakarta ketika ribuan remaja Indonesia rela mengantre semalaman untuk menonton konser BTS. Tidak ada armada Jepang yang berlabuh di Surabaya ketika anak-anak Indonesia tumbuh bersama Doraemon, Sailor Moon, Naruto, atau Pokémon.
Tidak ada pasukan Shaolin yang melintasi Laut Cina Selatan ketika jutaan pembaca di pelbagai negara larut dalam kisah pendekar Jin Yong. Dan tentu saja tidak ada marinir Amerika yang mengetuk pintu rumah kita setiap akhir pekan ketika keluarga Indonesia memilih menonton film Marvel di bioskop.
Mereka hadir begitu saja, sehingga seorang remaja menjadi Wibu, dan Masriadi berkarya dengan obyek superhero. Mereka hadir melalui sesuatu yang jauh lebih halus daripada kekuatan militer. Mereka hadir melalui imajinasi.
Inilah bentuk kekuasaan yang paling sulit dilihat sekaligus paling efektif bekerja. Dunia modern tidak lagi hanya diperebutkan melalui senjata, sumber daya alam, atau perdagangan. Ia juga diperebutkan melalui kemampuan membangun dunia-dunia imajinatif yang ingin dihuni orang lain.
Hollywood , tentu saja memahami hal itu sebelum banyak negara. Mereka menciptakan Superman dan superhero lainnya untuk mewakili ‘Mimpi Amerika.
Film-film Amerika tidak hanya menjual cerita. Mereka menjual cara hidup. Kota New York menjadi simbol mimpi. Jalan-jalan Los Angeles menjadi panggung kesuksesan. Kampus Harvard, agen FBI, koboi Texas, bahkan secangkir kopi Starbucks menjadi bagian dari imajinasi global. Orang tidak sekadar menonton Amerika; mereka mulai membayangkan diri mereka hidup di dalamnya.
Amerika juga menyebarkan abstrak ekspresionisme melalui Jackson Pollock dengan peran CIA, dan menjadi dasar pembacaan Clement Greenberg bahwa seni modern seharunya hanya bidang datar dan pigmen, dan kemudian diaminkan sebagian seniman di dunia.
Amerika tidak sekadar mengekspor fim, tapi sekaligus semestanya.
Jepang kemudian melakukan hal yang serupa. Sesudah Perang Dunia Kedua, Jepang tidak membangun pengaruhnya melalui pidato politik. Tidak dengan militer. Jepang membangun dunia melalui manga, anime, gim video, dan karakter-karakter yang tampak sederhana tetapi hidup di dalam ingatan lintas generasi. Doraemon, Totoro, One Piece, Zelda, hingga Studio Ghibli tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi. Mereka membentuk cara jutaan orang membayangkan persahabatan, keberanian, keluarga, bahkan alam.
Program negara yang kemudian dikenal sebagai Cool Japan pada dasarnya menyadari bahwa budaya populer bukan produk sampingan pembangunan nasional. Ia adalah strategi pembangunan itu sendiri.
Korea Selatan lantas menyusul. Pada akhir 1990-an, pemerintah Korea menyadari bahwa industri budaya dapat menjadi mesin ekonomi sekaligus diplomasi. Hasilnya kini dikenal sebagai Hallyu atau Korean Wave. Musik, drama, film, sastra, kosmetik, makanan, mode, hingga bahasa Korea bergerak sebagai satu ekosistem. Ketika seseorang mulai menonton Crash Landing on You, ia mungkin kemudian mencoba kimchi, belajar bahasa Korea, membeli produk kecantikan Korea, hingga bermimpi berwisata ke Seoul.
Budaya menjadi pintu masuk bagi ekonomi. Ekonomi memperkuat citra bangsa. Dan citra bangsa memperbesar pengaruh politik. Hubungan itu tidak pernah benar-benar terpisah.
Istlilah Hallyu memang lahir di media China, dan karena itu China tak malu untuk mengadopsinya. Selama bertahun-tahun, dunia mengenal China sebagai negara manufaktur. Namun di balik pertumbuhan ekonominya, China juga mulai menghidupkan kembali salah satu kekayaan naratif terbesarnya: dunia wuxia.
Melalui karya Jin Yong, Gu Long, film-film Zhang Yimou, Ang Lee, hingga pelbagai serial televisi dan gim digital, dunia pendekar kembali menjadi bagian penting dari identitas budaya China. Wuxia bukan sekadar kisah pertarungan. Ia adalah dunia moral yang memiliki hukum sendiri: kesetiaan, kehormatan, guru, murid, pengembaraan, dan pencarian diri.
Film animasinya Ne Zha 2 (2025)yang disutradarai dan ditulis oleh Jiaozi menjadi box office di banyak negara.
Menariknya, orang-orang di pelbagai negara tidak harus menjadi orang China untuk mencintai dunia itu. Mereka hanya perlu mempercayai imajinasinya. Dan, di sinilah letak rahasia soft power yang dijelaskan oleh Joseph Nye. Negara-negara tersebut tidak sekadar menciptakan produk budaya yang sukses. Mereka membangun dunia yang ingin dimasuki orang lain.
Setiap dunia memiliki geografinya sendiri. Hollywood memiliki New York, Gotham, dan galaksi Star Wars. Jepang memiliki Konoha, Shiganshina, dan dunia Ghibli. Korea memiliki Seoul yang romantis sekaligus modern. China memiliki jianghu, dunia para pendekar yang hidup di antara gunung, kuil, dan kerajaan.
Dunia-dunia itu mungkin saja fiktif, tetapi pengaruhnya sangat nyata. Ia memengaruhi pilihan wisata, konsumsi, bahasa, pendidikan, bahkan cara suatu bangsa dipersepsikan. Karena manusia pada dasarnya tidak hanya hidup di dalam dunia nyata. Manusia hidup di dalam cerita.
Pertanyaan yang kemudian, apakah Indonesia, baik kreator dan pemerintahnya sadar untuk melakukan itu?
Indonesia memiliki ribuan pulau, ratusan bahasa, ribuan cerita rakyat, kerajaan maritim, naskah kuno, tradisi spiritual, seni pertunjukan, dan kekayaan visual yang hampir tak terbatas. Namun sebagian besar kekayaan itu masih hadir sebagai arsip kebudayaan yang bahkan tak disentuh. Kekayaan budaya Indonesia belum menjadi imajinasi global, bahkan lokalpun.
Kita memiliki Borobudur sebagai salah satu pencapaian visual terbesar dalam sejarah manusia. Kita memiliki Panji, I La Galigo, kisah-kisah Dayak, Batak, Minangkabau, Papua, Bali, Sunda, Jawa, Bugis, dan banyak lagi. Tetapi dunia belum mengenal semuanya sebagai satu semesta yang hidup.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa pengaruh budaya lahir ketika sebuah bangsa mampu mengubah warisan menjadi dunia yang terus diceritakan ulang. Bukan hanya seolah dibanggakan, tapi tak memberikan ruang untuk hidup dalam kreativitas.
Inilah tantangan besar Indonesia pada abad ke-21.
Bukan sekadar mempromosikan budaya, tetapi membangun imajinasi dunia. Artinya, budaya tidak berhenti sebagai festival tahunan, pertunjukan wisata, atau koleksi museum. Ia menjadi komik, film, animasi, gim, musik, arsitektur, desain, mode, hingga tata bahasa visual yang memungkinkan orang dari pelbagai negara memasuki cara pandang Indonesia terhadap dunia.
Pada akhirnya, soft power bukan terutama soal seberapa lantang sebuah negara berbicara tentang dirinya. Soft power adalah kemampuan membuat orang lain dengan sukarela ingin tinggal, meski hanya sesaat, di dalam dunia yang kita ciptakan. Dan dalam sejarah, bangsa-bangsa yang mampu menciptakan dunia semacam itu hampir selalu menjadi bangsa yang paling lama diingat.

