Kita hidup di tengah banjir gambar. Setiap hari ribuan visual hadir di layar, ruang publik, dan media sosial. Namun semakin banyak gambar diproduksi, semakin jarang kita bertanya bagaimana gambar sebenarnya membentuk cara kita melihat dan mengalami dunia.

Gambar sering dipahami sebagai sesuatu yang mewakili kenyataan, padahal ia juga dapat mengarahkan perhatian, mengatur gerak, dan menciptakan pengalaman.

NeoBo lahir dari keyakinan bahwa visual adalah sebuah bahasa. Seperti bahasa lisan memiliki tata bahasa, visual juga memiliki prinsip-prinsip yang mengatur hubungan antara ruang, waktu, bentuk, warna, dan ritme. Prinsip-prinsip inilah yang memungkinkan sebuah karya tidak hanya terlihat menarik, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang utuh.

Pembacaan terhadap Borobudur menjadi titik awal pengembangan NeoBo. Yang dipelajari bukan bentuk candi atau ornamennya, melainkan cara Borobudur menyusun perjalanan visual melalui relief, ruang, arah, dan gerak. Dari pengamatan tersebut, NeoBo mengembangkan sebuah grammar yang dapat digunakan untuk memahami sekaligus menciptakan berbagai bentuk visual kontemporer.

NeoBo bukan upaya menghidupkan kembali masa lalu, bukan pula usaha menggantikan teori-teori yang telah ada. NeoBo adalah ajakan untuk melihat kembali kemungkinan-kemungkinan yang tersimpan dalam tradisi visual Nusantara dan membawanya ke dalam percakapan dengan praktik visual masa kini.Pada akhirnya, NeoBo bukan hanya menawarkan cara baru untuk membuat gambar. I

NeoBo menawarkan cara baru untuk membaca, menyusun, dan mengalami dunia melalui imajiinasi visual.