Selama berabad-abad, seni rupa dibangun di atas hubungan langsung antara tubuh seniman dan medium. Kuas, kanvas, cat, batu, atau logam menjadi perpanjangan tangan manusia. Kreativitas dipahami sebagai sesuatu yang muncul dari gestur individual. Namun dalam dua dekade terakhir, muncul generasi seniman yang menggeser paradigma tersebut. Mereka tidak lagi hanya melukis dengan cat, tetapi dengan data, algoritma, robot, bahkan kecerdasan buatan. Di sinilah AI Art (Artificial Intelligence Art) mulai membentuk sejarahnya sendiri.
Di antara tokoh-tokoh terpenting perkembangan ini adalah Refik Anadol, Sougwen Chung, dan Mario Klingemann. Ketiganya sama-sama menggunakan teknologi mutakhir, tetapi menawarkan pemahaman yang sangat berbeda tentang apa itu seni, siapa penciptanya, dan bagaimana pengalaman estetis dibangun.
Refik Anadol: Data Menjadi Pigmen
Refik Anadol mungkin merupakan nama paling dikenal dalam AI Art saat ini. Seniman Turki-Amerika ini mendefinisikan ulang hubungan antara data dan seni melalui apa yang ia sebut sebagai data painting.
Jika pelukis tradisional menggunakan warna sebagai bahan utama, Anadol menggunakan jutaan bahkan miliaran data sebagai “pigmen”. Arsip museum, data cuaca, citra satelit, rekaman hutan hujan, hingga memori digital kota diproses menggunakan algoritma pembelajaran mesin menjadi visual yang terus berubah.
Baginya, data bukan informasi statistik semata, melainkan material artistik.
Pendekatan ini terlihat jelas dalam proyek monumental Unsupervised (2022) di Museum of Modern Art (MoMA), New York. Instalasi setinggi lebih dari tujuh meter tersebut dilatih menggunakan ratusan ribu karya dalam arsip MoMA. AI kemudian menghasilkan aliran bentuk visual yang tidak pernah berhenti berubah, seolah museum sedang “bermimpi” mengenai koleksinya sendiri.
Karya tersebut menandai salah satu tonggak penting AI Art karena menjadi instalasi generatif berbasis AI pertama yang diakuisisi secara resmi oleh MoMA.
Machine Hallucinations: Ketika Mesin Bermimpi
Salah satu istilah paling terkenal dari Refik Anadol adalah Machine Hallucinations.
Alih-alih meminta AI meniru manusia, Anadol justru bertanya:
Bagaimana jika mesin mempunyai mimpi?
AI dilatih menggunakan jutaan gambar, kemudian dibiarkan menghasilkan bentuk-bentuk visual baru yang tidak pernah ada sebelumnya. Yang muncul bukan reproduksi fotografi, melainkan lanskap abstrak yang mengalir seperti memori cair.
Istilah “halusinasi” di sini bukan berarti peyimpangan, tetapi cara menggambarkan bagaimana jaringan saraf buatan membangun asosiasi visualnya sendiri.
Dengan demikian, AI bukan sekadar alat rendering, melainkan sistem yang menghasilkan kemungkinan estetika baru.
Arsitektur Menjadi Kanvas Hidup
Refik Anadol juga mengubah bangunan menjadi media seni.
Melalui proyek WDCH Dreams, permukaan Walt Disney Concert Hall karya Frank Gehry dipenuhi proyeksi visual hasil pengolahan arsip Los Angeles Philharmonic.
Gedung tidak lagi menjadi objek pasif.
Bangunan berubah menjadi organisme visual.
Hal yang sama dilakukan pada kubah raksasa Las Vegas Sphere, ketika Anadol menjadi seniman pertama yang memenuhi seluruh permukaan bangunan tersebut dengan karya AI berskala kota.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa AI Art tidak lagi terbatas pada galeri. Kota itu sendiri dapat menjadi ruang pamer.
Sougwen Chung: Ketika Robot Menjadi Rekan Melukis
Jika Refik Anadol berbicara mengenai data, maka Sougwen Chung berbicara mengenai hubungan. Seniman Tionghoa-Kanada ini mengembangkan sistem robot bernama D.O.U.G. (Drawing Operations Unit) yang mampu melukis bersama dirinya di atas kanvas yang sama.
Robot tersebut mula-mula hanya meniru gerakan tangannya.
Namun kemudian AI dilatih menggunakan ribuan arsip goresan Chung selama bertahun-tahun sehingga robot mampu merespons secara mandiri.
Hubungan ini menarik karena tidak lagi berbentuk perintah satu arah.
Robot bukan sekadar alat. Robot menjadi partner kreatif.
Pada eksperimen yang lebih mutakhir, Chung bahkan menggunakan sensor EEG dan biosensor tubuh sehingga sinyal biologisnya diterjemahkan menjadi gerakan lengan robot.
Di sini seni lahir dari dialog antara tubuh biologis dan tubuh mekanis.
Mario Klingemann: Ketika Mesin Menjadi Seniman
Jika Anadol memanfaatkan AI sebagai media dan Chung menjadikannya kolaborator, maka Mario Klingemann melangkah lebih jauh.
Ia mempertanyakan:
Bagaimana jika mesin benar-benar menjadi seniman?
Seniman Jerman yang dikenal dengan nama Quasimondo ini membangun algoritma yang secara mandiri menghasilkan ribuan bahkan jutaan gambar.
Peran manusia berubah drastis.
Ia tidak lagi menggambar. Ia memilih.
Dalam pandangan Klingemann, seniman masa depan mungkin lebih menyerupai kurator daripada pelukis.
Ia merancang sistem kreatif, kemudian mengamati hasil-hasil yang diproduksi mesin.
Gagasan ini terlihat jelas pada karya Memories of Passersby I, sebuah komputer yang terus-menerus menghasilkan wajah-wajah manusia yang tidak pernah benar-benar ada.
Tidak ada karya final. Namun apa yang ada hanyalah proses tanpa akhir.
Botto: Seniman Otonom Pertama?
Eksperimen Klingemann mencapai bentuk paling radikal melalui proyek Botto.
Botto merupakan sistem AI yang menghasilkan ribuan gambar setiap minggu.
Komunitas global kemudian memberikan suara untuk memilih karya terbaik.
Hasil pilihan tersebut dipasarkan sebagai karya seni digital.
Di sini muncul pertanyaan yang semakin penting:
- Siapa sebenarnya senimannya? Algoritma? Programmer? Komunitas? Ataukah keseluruhan sistem?
Pertanyaan semacam ini mungkin menjadi isu estetika paling besar pada abad ke-21.
Tiga Jalan AI Art
Walaupun sama-sama menggunakan kecerdasan buatan, ketiga seniman tersebut sebenarnya menempuh jalan yang berbeda.
Refik Anadol menggunakan AI untuk mentransformasikan data menjadi pengalaman visual imersif.
Sougwen Chung menggunakan AI untuk membangun hubungan kolaboratif antara manusia dan mesin.
Mario Klingemann menggunakan AI untuk mengeksplorasi kemungkinan munculnya kreativitas otonom.
Perbedaannya dapat diringkas sebagai berikut:
| Seniman | Fokus Utama | Posisi AI |
| Refik Anadol | Data sebagai material seni | Medium kreatif |
| Sougwen Chung | Kolaborasi manusia–robot | Rekan kreatif |
| Mario Klingemann | Kreativitas algoritmik | Agen kreatif |
Perbedaan ini menunjukkan bahwa AI Art bukan satu aliran tunggal, melainkan medan yang sangat beragam.
AI Bukan Menggantikan Seniman
Kekhawatiran terbesar masyarakat terhadap AI Art biasanya adalah hilangnya peran manusia.
Namun karya ketiga seniman tersebut justru menunjukkan hal yang lebih kompleks.
AI tidak menghapus seniman.
AI mengubah definisi menjadi seniman.
Seniman tidak lagi hanya menghasilkan objek visual.
Ia merancang sistem, mengelola data, memilih algoritma, menyusun pengalaman, bahkan mendesain interaksi antara manusia dan mesin.
Dengan kata lain, kreativitas bergeser dari produksi bentuk menuju desain kemungkinan.
AI Bagi Neo-Borobudur
Perkembangan AI Art juga membuka ruang yang sangat menarik bagi Neo-Borobudur.
Selama ini AI generatif lebih banyak dilatih menggunakan estetika Barat atau budaya populer global. Padahal Neo-Borobudur menawarkan sesuatu yang berbeda: bukan sekadar gaya visual, melainkan sebuah grammar visual yang mengatur bagaimana pengalaman dibangun melalui ruang, waktu, fragmen, dan perjalanan kesadaran.
Dalam konteks ini, AI tidak perlu dipahami sebagai mesin pembuat gambar otomatis. AI dapat menjadi sistem yang belajar pada tata bahasa visual Neo-Borobudur: prinsip Ruang–Waktu–Datar, Fraksionasi, Garis Kosmik, Spiral Pradaksina, Mandala, Sunyata, hingga tata warna yang mengarahkan pengalaman. Seperti seorang penulis yang menggunakan tata bahasa yang sama untuk menghasilkan novel yang berbeda, pelukis maupun AI dapat menggunakan grammar Neo-Borobudur untuk melahirkan karya yang beragam tanpa kehilangan struktur dasarnya.
Di sinilah letak kontribusi yang mungkin ditawarkan Neo-Borobudur kepada dunia AI Art. Jika Refik Anadol menunjukkan bagaimana data dapat menjadi pigmen, Sougwen Chung memperlihatkan bagaimana robot dapat menjadi rekan kreatif, dan Mario Klingemann mengeksplorasi otonomi algoritma, maka Neo-Borobudur menawarkan pertanyaan lain: dapatkah sebuah sistem visual menjadi bahasa yang dipelajari manusia dan AI untuk membangun pengalaman estetis yang berpusat pada perjalanan kesadaran?
Apabila pertanyaan itu dapat dijawab melalui praktik artistik yang konsisten, maka Neo-Borobudur tidak hanya menjadi teori seni rupa atau metode melukis. Ia berpotensi berkembang menjadi salah satu tata bahasa visual yang hidup di era kecerdasan buatan—sebuah sistem operasional kreatif yang memungkinkan banyak pencipta, baik manusia maupun AI, menghasilkan karya yang berbeda-beda tetapi tetap berakar pada prinsip pengalaman yang sama.


